Hidupkan Orang Mati dengan Teknologi, Mungkinkah | Breaktime
Hidupkan Orang Mati dengan Teknologi, Mungkinkah?
09.01.2016
“Life asked death, ‘Why do people love me but hate you?’
Death responded,
‘Because you are a beautiful lie and I am a painful truth.”

Meski kematian adalah takdir yang pasti menyapa siapa saja, tak dipungkiri bahwa ia bisa menjadi perpisahan yang paling menyakitkan dengan orang terkasih. Barangkali pemikiran inilah yang mengantar Josh Bocanegra, pendiri website Humai untuk menciptakan teknologi yang konon bisa kembali menghidupkan orang yang sudah mati. For real?

Pertama, teknik ini dilakukan dengan cara membekukan otak manusia dalam waktu tertentu dengan menggunakan cryonics, semacam teknologi deep-freezing yang menggunakan suhu sangat rendah, sebelum kemudian diimplementasikan pada tubuh buatan. Josh sendiri optimis bahwa idenya ini akan terealisasi dalam waktu 30 tahun ke depan, yakni tahun 2045.

Hidupkan Orang Mati dengan Teknologi, Mungkinkah | Breaktime
Salah satu model tubuh artifisial yang akan mendapatkan transplantasi otak

Sebelumnya, ia akan “menyimpan” otak sebelum seseorang mengalami kematian yang sesungguhnya. Cara terbaik yang ia pikirkan adalah dengan melakukan transplantasi otak seseorang yang masih aktif pada bionic body agar nantinya otak tersebut tak sepenuhnya mati dan masih bisa “dihidupkan”.

Dan tentu saja ide pihak Humai ini mendapatkan kritik dari berbagai pihak. Sejumlah aliansi di bidang sains pun ikut angkat suara, di antaranya adalah Society for Artificial Intelligence and Simulation of Behaviour serta London Interactivity Society (LIS) yang melakukan debat dalam diskusi mereka.

Hidupkan Orang Mati dengan Teknologi, Mungkinkah | Breaktime
Seorang neuropatologi tengah memegang salah satu dari 8000 otak yang tersimpan di bank otak terbesar dunia

Secara umum, hasil konsensus tersebut mengungkap bahwa konsep Humai tidak dinilai sebagai “tidak mungkin” tapi justru “tidak masuk akal” bila dilihat dari alasan sains maupun filosofi. Salah satu alasanya adalah pikiran seseorang tidak terkurung dalam otak semata. Namun, pikiran tersebut juga “menyebar” ke berbagai anggota tubuh lain yang bahkan tidak terhubung dengan “intelegensi”.

Salah satu anggota LIS angkat suara dengan memberikan analogi sederhana bahwa meletakkan otak dalam tubuh yang berbeda sungguh tidak sama dengan mengubah monitor pada PC Anda. Menurutnya, ada banyak hal yang perlu diperhitungkan, termasuk pengaruh budaya yang membentuk jati diri kita.

Hidupkan Orang Mati dengan Teknologi, Mungkinkah | Breaktime
Kontainer yang digunakan untuk membekukan otak dan tubuh

Anggota LIS lainnya juga ikut menambahkan bahwa bila misi tersebut dilanjutkan, tak ada hasil lain, yang ada hanya kesia-siaan belaka. Ada sesuatu dalam diri manusia yang benar-benar akan lenyap begitu saja ketika ia tak lagi mendiami sukma yang sama. Ia juga tak ragu mengatakan bahwa tak peduli secanggih apapun teknologi yang ada, “sesuatu” yang hilang itu benar-benar tak bisa dibawa kembali bagaimanapun caranya.

Bisa jadi apa yang dimaksudkan oleh para ilmuwan itu adalah nyawa atau ruh yang dimiliki seseorang. Yap, “komponen” inilah yang barangkali belum masuk dalam perhitungan Josh Bocanegra untuk memulai misi perusahaan Humai-nya.

Well, benarkah Josh dan perusahaannya mampu kembali “menghidupkan” seseorang yang sudah meninggal seperti sosoknya yang dulu? (vsc)

Share This Article