Derita Tan Malaka – Pesona Sujiwo Tejo | Breaktime
Hari Buku Nasional: Derita Tan Malaka – Pesona Sujiwo Tejo
17.05.2017

Tepat hari ini, (17/5) merupakan Hari Buku Nasional. Namun sayangnya, negeri ini memiliki masyarakat yang tidak terlalu suka membaca. Tapi rupanya para penulis lokal sekarang ini masih terus berjuang untuk meneruskan perjuangan memajukan bangsa melalui buku. Berbicara tentang Indonesia, rasanya tak lengkap jika tidak mengupas tentang sosok-sosok penulis jaman dulu yang ternyata punya peran penting dalam memajukan negeri ini hingga seperti sekarang. Breaktime merangkum beberapa penulis buku nasional yang sangat berpengaruh sejak masa penjajahan hingga era modern seperti sekarang ini. Siapa saja mereka?

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Tak Disangka 4 Buku Ini Bisa Mengubah Hidup!

Tan Malaka

Derita Tan Malaka – Pesona Sujiwo Tejo | Breaktime
Tan Malaka (earthofpeople.files.wordpress.com)

Meskipun Anda bukan seorang kutu buku, tapi Anda pasti mengenal atau pernah mendengar nama Tan Malaka. Sosoknya begitu kontroversial dan cukup dilupakan saat ini. Julukan bapak bangsa diberikan karena pemilik nama asli Sutan Ibrahim ini ternyata punya peran penting dalam membangun Indonesia. Seorang peneliti sejarah dari Belanda, Harry A Poeze, menegaskan bahwa ternyata sejarah tentang Tan harus diluruskan. Dalam bukunya, Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, menyebutkan bahwa Tan adalah sosok nasionalis dengan pemikiran yang tinggi dan sosok yang berperan dalam mendirikan Republik Indonesia yang sejahtera dan sosialis.

Sosok Tan dilupakan dalam buku sejarah karena namanya telah dicoret dengan tinta merah. Mengapa demikian? Hal tersebut karena Tan dicap sebagai komunis lantara sempat aktif dalam Partai Komunis Hindia (PKH) dan ia juga menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal di balik kegigihan Soekarno-Hatta memerdekakan Indonesia, ada jasa Tan Malaka. Pada tahun 1925, Tan menulis sebuah buku yang berjudul Naar de Republiek Indonesia. Itulah literatur pertama yang mencetuskan tentang konsep Negara Indonesia.

Soe Hok Gie

Derita Tan Malaka – Pesona Sujiwo Tejo | Breaktime
Soe Hok Gie (timotiusyosia.blogspot.com)

Jika diberi umur panjang, aktivis dan intelektual, Soe Hok Gie, akan berusia 75 tahun di akhir 2017 nanti. Seorang pemuda kelahiran 17 Desember 1942 ini dikenal sebagai salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia adalah sosok yang menggempur kekuasaan Orde Lama dengan serangkaian demo pasca-G30S. Gie juga menerbitkan buku hariannya yang diberi judul Catatan Seorang Demonstran. Gie adalah sosok penulis yang produktif. Artikel-artikelnya banyak tersebar di berbagai surat kabar.

Ada pro-kontra dalam setiap tulisan Gie. Tak hanya artikel, Gie juga menulis esai yang berjudul Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Meski ia gencar mengkritik perilaku politik PKI, ia juga intelektual pertama yang mengecam pembunuhan massal kader dan simpatisan PKI. Gie juga seringkali mengirim bedak dan gincu pada mahasiswa yang menjadi anggota DPR. Pemuda yang hobi naik gunung ini merasa kecewa, karena teman-temannya di DPR dianggap telah lupa pada rakyat. Menariknya lagi, karena kecintaan terhadap gunung, pria yang mati muda pernah menulis “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.“

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Google Doodle: Menguak Kisah Tragis Pramoedya Ananta Toer

Wimanjaya Keeper Liotohe

Derita Tan Malaka – Pesona Sujiwo Tejo | Breaktime
Wimanjaya Keeper Liotohe (terasbintang.com)

Pri a yang kini berusia 84 tahun sedang ramai diperbincangkan publik. Tak lain karena kisah perjuangannya dalam menulis buku hampir sama dengan kisah Pramoedya Ananta Toer. Sosok Wimanjaya Keeper Liotohe harus rela keluar masuk penjara karena tiga buku karyanya yang dianggap membeberkan dosa pada rezim Soeharto. Wimanjaya mengkritik pemerintahan Orde Baru melalui trilogi yang berjudul Primadosa, Primadusta, dan Primaduka. Ketiga bukunya tersebut dilarang beredar pada masa pemerintahan Soeharto.

Wimanjaya sempat mendekam di penjara. Buku Primadosa teridiri dari tiga jilid yang berisi dosa yang dilakukan pemerintahan Orde Baru. Buku Primadusta berisi tentang kejadian SUPERSEMAR atau Surat Perintah 11 Maret yang terdiri atas dua jilid. Buku Primaduka berisi tentang peristiwa pembantaian 3 juta rakyat Indonesia dari tahun 1965 sampai 1998.

Sujiwo Tejo

Derita Tan Malaka – Pesona Sujiwo Tejo | Breaktime
Sujiwo Tejo (lirik.cc)

Pemilik nama asli Agus Hadi Sudjiwo ini dikenal sebagai seorang budayawan Indonesia. Tapi ia adalah sosok yang juga seringkali menulis dan menerbitkan buku. Budayawan yang multitalenta ini dikenal cukup unik. Sujiwo Tejo mengemas buku-bukunya yang berisi kritikan, agama, dan cinta dengan cara yang unik. Sujiwo menjadikan tokoh-tokoh wayang sebagai perumpamaan tokoh dalam buku-bukunya.

Untuk orang awam mungkin membaca buku Sujiwo Tejo cukup berat. Namun, tak sedikit yang menikmati karya pria yang lahir 54 tahun silam, karena dikemas dalam bahasa yang santai dan mudah dipahami. Beberapa karyanya yang telah dicetak adalah Kelakar Madura Buat Gus Dur, Ngawur Karena Benar, Jiwo Jancuk, Lupa Endonesa, Rahvayana ‘Aku Lala Padamu’, dan Tuhan Maha Asyik. Saat rilis buku Tuhan Maha Asyik, Sujiwo hanya berpesan untuk menjadikan bukunya sebagai latihan berpikir, tidak untuk dianalisis terlalu dalam.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
5 Buku yang Wajib Dibaca Sebelum Menginjak Usia 30 Tahun

Sebenarnya masih banyak penulis di Indonesia yang perlu untuk diulas, sebut saja Wiji Thukul, Sapardi Djoko Damono, dan Pramoedya Ananta Toer. Mereka juga sosok-sosok sangat berpengaruh untuk negeri ini dengan karya-karyanya. Jadi, kita sebagai masyarakat Indonesia sudah seharusnya tahu karya masterpiece dari para penulis ini dengan cara meningkatkan kembali minat baca untuk belajar banyak hal lebih luas. Ingat apa yang diucapkan oleh Moh. Hatta, “Aku rela dipenjara asal bersama buku, karena dengan buku aku bebas.“ Selamat merayakan Hari Buku Nasional untuk para kutu buku Ibu Pertiwi! (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE