UU Speech, Berpendapat Vs Penghapusan Kebencian | Breaktime
Dilematika UU Hate of Speech, Kebebasan Berpendapat Vs Penghapusan Kebencian
05.11.2015

Sampai sekarang ini, masih menjadi trending topik yang cukup panas baik di dunia nyata ataupun di dunia maya pada khususnya. Surat Edaran (SE) Nomor SE/06/X/2015yang sudah ditandatangani oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memunculkan pro dan kontra.

Pertanyaannya adalah “Setujukah B’timers akan dibuatnya SE terkait Hate of Speech tersebut?”

Khususnya di dunia maya, pergolakan pro dan kontra semakin panas karena baik yang mendukung atau juga yang menolak sama-sama memiliki opini akan SE tersebut. Dalam SE yang kini sudah diedarkan atau dikirimkan ke setiap Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) di seluruh Indonesia itu tertulis bahwa ide untuk memunculkan undang-undang tersebut untuk melindungi siapa saja terhadap unsur kebencian dan juga untuk mengingatkan masyarakat bahwa siapa pun harap berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat dalam bentuk dan di media apapun.

Sebenarnya sih B’timers, tidak hanya di Indonesia saja ada undang-undang semacam itu, bahkan pengekangannya juga dapat dikatakan lebih ekstrem. Contohnya saja di Inggris, Skotlandia dan Wales. Di 3 negara ini benar-benar melindungi siapa saja dan memberikan hak sebagai manusia terhadap ancaman dalam bentuk apapun, tanpa terkecuali masalah kebencian atau intimidasi. Bahkan bagi yang melanggar, ada sanksi yang cukup tegas dan berat, yaitu hukuman minimal 7 tahun penjara.

UU Speech, Berpendapat Vs Penghapusan Kebencian | Breaktime
Pro dan kontra akan dibuatnya undang-undang terkait hate of speech ini sangat santer terdengar di media online

Nah, sedikit berkaca pada masalah tersebut, sebenarnya masalah hate of speech di sosial media sudah sangat sering terjadi tidak hanya sekarang saja. Karena sejak zamannya MiRC, Friendster sampai dengan Facebook atau sejenisnya sekarang ini, sudah ribuan bahkan mungkin jutaan postingan baik berupa tulisan atau juga gambar dan meme yang diunggah ke internet.

Bagi orang-orang yang setuju dengan diciptakannya undang-undang tersebut berpendapat bahwa memang sangat perlu dibuat hal semacam itu karena dari hari ke hari, unsur hatred di sosial media semakin tidak terkontrol. Siapa saja dengan bebas dapat melakukan bullying, penghinaan, intimidasi sampai dengan melecehkan seseorang secara langsung.

Akan tetapi bagi yang tidak setuju, SE Hate of Speech tersebut merupakan belenggu kebebasan berpendapat dan melontarkan kritik, saran dan mencederai sisi demokrasi yang dianut Indonesia. Bahkan tidak hanya itu saja, diciptakannya SE tersebut juga melanggar Undang Undang Dasar 1945 yang berisikan perlindungan kepada siapa saja dalam mengutarakan pendapat serta dikhawatirkan justru akan menguntungkan golongan tertentu.

Terlepas dari peraturan atau SE tersebut, pada dasarnya semua orang bebas berpendapat atau mengungkapkan pikiran, akan tetapi semua orang juga memiliki hak untuk dihormati. Menurut B’timers sendiri, efektifkah SE tersebut dibuat? (das)

"If people were permitted to freely attempt to commit acts promoting feelings of enmity or hatred, it affecting the peace and of the society"

Share This Article