Netizen Sulap Kehidupan Pengungsi Suriah | Breaktime
Dari Twitter, Netizen Sulap Kehidupan Pengungsi Suriah
04.12.2015

Bila B’timers aktif di sosial media, pastinya Anda pernah melihat foto memilukan seorang pengungsi asal Suriah yang berjualan bolpoin, bukan? Dalam foto tersebut, ia berjalan menjajakan bolpoin di tepi jalan sambil menggendong anaknya.

Pria tersebut tak lain dan tak bukan adalah Abdul Halim al-Attar yang berkeliling di jalanan Beirut bersama sang putri kecilnya, Raheem. Pemandangan yang memilukan ini sontak menyentuh hati seorang jurnalis online dan web developer asal Norwegia, Gissur Simonarson.

Netizen Sulap Kehidupan Pengungsi Suriah | Breaktime
Akun Twitter yang didedikasikan untuk Al Attar dan putrinya

Ia membuat akun Twitter @buy_pens dan kampanye Indiegogo untuk mengumpulkan dana 5000 dolar atau sekitar Rp 70 juta untuk disumbangkan pada Al Attar dan keluarganya. Dan syukurnya, aksi yang dilakukan oleh Gissur ini mendapat sambutan positif netizen dan masyarakat luas. Timnya berhasil mengumpulkan uang sebanyak 188.685 dolar atau senilai lebih dari Rp 2 miliar! Wow!

Semula Al Attar tidak bisa menerima donasi tersebut karena terganjal masalah administrasi bank. Statusnya sebagai pengungsi membuat urusan administrasi berjalan alot. Namun, pihak penyelenggara Indiegogo akhirnya mencairkan dana tersebut di Dubai dan membawanya ke Lebanon untuk diserahkan pada Al Attar selama beberapa kali. Such a sweet effort, right?

Netizen Sulap Kehidupan Pengungsi Suriah | Breaktime
Usaha restoran baru Al Attar di kota Beirut

Dan, lebih menakjubkannya lagi, kini Al Attar telah menjadi seorang pengusaha sukses yang mengendalikan tiga bisnis di Lebanon. Yap, uang donasi dari para netizen tersebut dikumpulkannya dan dijadikan investasi untuk menjalankan bisnis.

Kini, tak hanya hidup Al Attar dan Raheem saja yang tertolong, sejumlah pengungsi Suriah lain yang menjadi anak buahnya pun turut merasakan kesejahteraan yang sama. Pria berusia 33 tahun tersebut mempekerjakan 16 pengungsi Suriah pada bisnis yang digelutinya. Selain itu, ia sendiri membagikan 25.000 dolar atau Rp 350 juta pada teman dan kerabatnya yang masih berada di Suriah.

Di kota Beirut, Al Attar mulai menjalankan bisnis restoran yang menjual fresh bread serta Shawarmas, sejenis kebab yang dibuat dari daging ayam, kambing, atau sapi dengan paduan berbagai sayuran di dalamnya.

Netizen Sulap Kehidupan Pengungsi Suriah | Breaktime
Kepekaan netizen membuat Al Attar dan putrinya lebih bahagia

Mengetahui kondisi perekenomian Al Attar yang makin membaik membuat Gissur Simonarson merasa sangat bahagia. Saat dilakukan wawancara via telepon ke Oslo, Gissur mengaku sempat khawatir karena kesulitan administrasi perbankan yang dialami Al Attar. Namun, kini ia benar-benar bisa bernapas lega setelah tahu Al Attar dan putrinya tinggal di tempat yang lebih layak dan bahkan menjalankan bisnis sendiri.

Tak hanya Gissur, Al Attar pun mengaku sangat bersyukur atas kepekaan para netizen yang telah membantunya. Statusnya sekarang sebagai pengusaha membuat ia lebih dihargai dan dihormati warga sekitar. Ia tak lagi dipandang sebelah mata sebagai pengungsi Suriah dengan keterbatasan dana.

See? Betapa ampuhnya sosial media untuk mengubah hidup seseorang?. Adanya teknologi saat ini memang membebaskan B’timers untuk menjadi citizen journalist di berbagai event positif yang memberikan sejuta manfaat bagi orang lain. Are you ready to be next Gissur Simonarson? (vsc)

Share This Article