Benarkah Teknologi Jadi Gerbang Baru Rasisme? | Breaktime
Benarkah Teknologi Jadi Gerbang Baru Rasisme?
01.12.2017

Rasisme adalah salah satu tindakan diskriminasi yang telah banyak mencetak sejarah kelam sepanjang peradaban manusia. Anda pasti sudah tahu kejamnya pembantaian Holocaust dan Armenian Genocide yang dilakukan oleh Adolf Hitler dan Joseph Stalin. Bahkan di Indonesia pun sempat terjadi tragedi kemanusiaan di tahun 1998 yang menimpa warga etnis China.

Ratusan tahun telah berlalu, dan dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan kita semua berharap bahwa mentalitas kerdil itu sudah hilang selamanya kan? Sayangnya, kenyataan tidak berkata demikian. Memang, jika dibandingkan dengan bertahun-tahun yang lalu manusia modern sudah lebih educated dan berpikiran terbuka sehingga awareness akan tindakan rasisme pun semakin meluas. Tapi sayangnya rasisme juga memiliki metode penyebaran yang baru, yaitu melalui penemuan teknologi.

Pada tahun 2009. Seorang perempuan berdarah campuran Taiwan-Amerika membeli sebuah digital camera bermerek Nikon Coolpix, ia berniat untuk memberikan kamera tersebut sebagai kado ulangtahun untuk ibundanya. Tentu saja rasanya sayang kan jika Anda sudah membeli kamera tanpa mencobanya terlebih dahulu? Dan itulah yang ia lakukan. Ia mengambil beberapa foto dengan kamera tersebut dengan menggunakan fitur Face Detection, tapi setiap kali ia tersenyum ia terkejut dengan respons yang ia berikan. 

Benarkah Teknologi Jadi Gerbang Baru Rasisme? | Breaktime
Benarkah teknologi sedemikian advanced sampai bisa rasis?

Kamera tersebut menampilkan pesan “Did someone just blink?”, atau “adakah yang mengedipkan mata?”. Sontak, perempuan tersebut mengunggah screencapture dari pesan tersebut dan mengunggahnya ke akun media sosialnya dengan caption “kamera rasis! Aku tidak berkedip. . . aku hanyalah orang Asia”. Unggahannya pun menjadi viral dan mengundang berbagai macam respons.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Menyemai Benih ala Bercocok Tanam Hidroponik

Kejadian penemuan teknologi yang rasis bukan hanya sekali itu saja terjadi. Web camera yang diproduksi oleh perusahaan tech Hewlett-Packard pun sempat menuai kontroversi yang sama. Bertempat di sebuah kantor dealership di area Texas, seorang pekerja kulit putih merekam dan mengunggah video di Youtube yang menampilkan rekan kerjanya yang berkulit hitam berusaha mengutak-atik built-in webcam di laptop HP.

Kamera tersebut dapat mengenali wajah pegawai berkulit putih dengan baik, dan bahkan mengikuti pergerakannya. Tapi, kamera tersebut langsung berhenti begitu pegawai dengan kulit hitam menggunakannya. Video tersebut lantas menjadi viral hingga menembus jumlah viewers hampir sebanyak 2 juta. Pihak HP pun dengan tanggap menanggapi video tersebut dengan menyatakan bahwa semua produk yang mereka gunakan ditujukan untuk semua golongan, bahkan untuk kulit berwarna sekalipun. Mereka mengklaim bahwa kejadian tersebut adalah glitch, dan di saat yang sama mereka juga memberikan tutorial untuk memperbaiki gangguan tersebut.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Wajah Baru Nokia Steel Edisi Terbatas

So, was it intentional? Besar kemungkinan tindakan rasisme yang dilakukan oleh produk-produk teknologi di atas hanyalah gangguan pada sistem pemrogaman  Artificial Intelligence atau AI. Alasan tersebut memang sangat masuk akal, apalagi mengingat bahwa AI hanyalah kumpulan kode bukan makhluk hidup yang memiliki akal seperti manusia. Hence, mereka tidak memiliki konsep hidup yang diamalkan oleh manusia, termasuk konsep rasisme. Sistem algoritma yang digunakan pun cenderung sederhana, sehingga tak mengherankan jika hasil output yang dihasilkan terkadang ngaco.

Tapi di sisi lain, AI adalah produk buatan manusia. Dan bergantung dari lingkungan tempat ia dibesarkan dan pola pikirnya, manusia sangat bisa memiliki pola pikir rasisme. Sama seperti para penulis yang menuangkan ideologi pemikirannya dalam bentuk tulisan, seorang pegawai IT pun bisa memasukkan unsur rasisme ke dalam pemrogaman yang ia lakukan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Stop Lakukan Ini Saat Bermain Smartphone!

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cara membedakan perilaku teknologi rasis yang sebenarnya tidak sengaja atau disengaja, tapi ada satu hal yang bisa kita semua lakukan. Jika Anda memiliki perusahaan, sangatlah disarankan untuk menerima dan menjamin kenyamanan pegawai dari berbagai macam suku dan ras. Dengan diversity yang terwujud di tempat kerja, setiap orang bisa memberikan masukan sehingga hasil teknologi yang dihasilkan tidak memiliki blind spots. Selain itu, dengan berbaur dengan teman-teman kerja yang berbeda suku diharapkan kita sebagai manusia pun terhindar dari pola pikir rasisme. (dkp)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE