Sisi Lain Dongeng lewat The Language of Thorns | Breaktime
Sisi Lain Dongeng lewat The Language of Thorns
12.11.2017

Sejak merilis novel debutnya yang bertajuk Shadow and Bone pada tahun 2012, Leigh Bardugo telah memesona para pembaca kisah fantasi young adult  di berbagai belahan dunia lewat trilogi Grisha. Bersama kedua novel selanjutnya yakni Siege and Storm dan Ruin and Rising, ketiga judul tersebut telah ditasbihkan sebagai New York Times Bestsellers. Tak hanya ketiga novel dalam trilogi Grishaverse tersebut, Bardugo terbilang produktif menelurkan karya dalam hitungan tahunan. Proyek terbarunya, The Language of Thorns, kembali mengeksplorasi kisah fantasi di negeri ajaib Grisha dalam bentuk cerita pendek.

Masih bertutur mengenai cerita dari negeri-negeri dongeng seperti Ravka dan Kerch, kumpulan cerpennya yang baru saja terbit pada tahun 2017 ini didampingi oleh ilustrasi menawan dari Sara Kipin. Uniknya, keenam kisah fantasi tersebut tak bisa dipisahkan begitu saja dari trilogi Grisha yang telah ditulisnya sebelumnya. The Language of Thorns dimaksudkan sebagai kumpulan dongeng dan cerita rakyat yang sering didengar oleh anak-anak di negeri Ravka dan Kerch. Dengan demikian, Alina, Mal, dan karakter-karakter lainnya tumbuh besar dengan penuturan kisah-kisah dongeng dalam The Language of Thorns.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
5 Film Animasi Ini Ternyata Paling Ramah Anak

Sang penulis berkebangsaan Amerika kelahiran Yerusalem tersebut mengaku bahwa dirinya sejak awal proses penulisan trilogi Grisha telah terinspirasi untuk menguak sisi gelap dalam cerita rakyat dan kisah dongeng dari beragam kebudayaan di dunia. Menurut Bardugo, kisah-kisah dongeng kuno selalu menceritakan kegelapan sebagai suatu metafora. Kejahatan yang mengancam suatu negeri dongeng selalu diumpamakan sebagai kegelapan yang membayangi atau sebagai era kegelapan yang datang menjelang. Bardugo tertarik untuk menggambarkan kegelapan tersebut secara literal dan sebagai suatu tempat sungguhan. 

Sisi Lain Dongeng lewat The Language of Thorns | Breaktime
Leigh Bardugo bersama karyanya, The Language of Thorns

Bagaimana jadinya ketika kegelapan merupakan suatu negeri yang jauh tempat kejahatan bersemayam dan para monster bertempat tinggal? The Language of Thorns kembali menggambarkan kengerian berbalut kisah dongeng young adult dalam trilogi Grisha, bahwa monster jahat jauh lebih menyeramkan daripada hantu yang bersembunyi di benak anak-anak, di bawah ranjang maupun di balik pintu lemari. Shadow and Bone dan keseluruh kisah yang telah ditulisnya kemudian mewujudkan epik pertarungan melawan monster-monster jahat di negeri gelap nan jauh, lemah dan tak berdaya dalam kuasa kegelapan yang nyata adanya.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Heboh Jokowi Mantu, Ada Mitos Pernikahan Jawa

Dalam suatu wawancara bersama majalah Entertainment Weekly, gadis lulusan Universitas Yale tersebut mengaku bahwa serial Grishaverse karangannya menggambarkan suasana masa pemerintahan Tsar Rusia di awal tahun 1800-an. Bardugo mengaku bahwa berbagai elemen budaya dan sejarah Rusia memicu gambaran menakjubkan akan keindahan alam sekaligus kebrutalan yang menarik untuk dieksplorasi sebagai latar kisah fantasi yang ditulisnya. Menariknya, kumpulan cerpen berjudul lengkap The Language of Thorns: Midnight Tales and Dangerous Magic tersebut mengisahkan cerita dongeng yang jauh dari gambaran fantasi ala Disney.

Alih-alih menuturkan kisah dongeng yang berakhir bahagia seperti film-film fantasi Disney klasik, tulisan-tulisan Bardugo jauh lebih mirip dengan kisah-kisah yang dituturkan dalam Game of Thrones. Sang pangeran tampan tak selamanya berhati mulia dan siap menyelamatkan sang putri dari cengekeraman kejahatan. Sang ayah yang nampak memanjakan sang anak gadis nyatanya tak selamanya baik hati dan penuh kasih sayang. Dalam suatu kesempatan wawancara bersama cosmopolitan.com, Bardugo bahkan menegaskan bahwa kisah fantasi yang dituliskannya bermaksud menjelajahi area gelap yang selama ini diabaikan dalam cerita-cerita dongeng.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Di Balik Film Adaptasi Cinderella 1997

The Language of Thorn mengangkat dunia magis, kisah kepahlawanan, hingga nilai-nilai moral yang senantiasa diajarkan para oranggtuan kepada anak-anak mereka lewat kisah mitos dan cerita rakyat. Tentu saja, kumpulan cerita tersebut jauh lebih sesuai untuk dibaca oleh para remaja dan dewasa awal karena keindahan dan keajaiban negeri dongeng yang dituturkan Bardugo berkelindan dengan kekejaman dan kejahatan yang akan cukup sulit untuk dicerna oleh anak-anak. Apakah B’timers tertarik menyelami kisah-kisah magis yang tak hanya fiktif namun juga dengan mudahnya relatable dengan dunia nyata saat ini? (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE