Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945
18.04.2017

Tepat 19 April 2017 besok akan dilaksanakan Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua. Meskipun ini hanya pemilihan untuk penduduk Jakarta, tetapi B’timers pasti merasakan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia dipusingkan dengan hal ini. Mungkin karena beritanya ada dimana-mana, mulai dari televisi sampai di media sosial pun juga ada.

Tetapi kali ini Breaktime tidak akan membahas hal tersebut. Masyarakat sudah dipusingkan dengan berita Pilkada Jakarta 2017, kini Breaktime akan membawa Anda untuk flashback siapa saja gubernur yang pernah memimpin Jakarta dan apa saja karya yang mereka buat? Yuk, cari tahu semuanya dalam ulasan berikut ini.

Baca juga : PILKADA 2017: DARI PULAU TERLUAR SAMPAI LIBUR NASIONAL

Raden Suwiryo (1945 – 1947 dan 1950 – 1951)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Raden Suwiryo

Raden Suwiryo bersama dengan wakilnya Baginda Dahlan Abdullah ditunjuk sebagai Walikota pertama DKI Jakarta saat pemindahan kekuasaan Jepang ke Indonesia, tepatnya pada 23 September 1945. Beliau juga yang mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Saat Belanda kembali, Suwiryo tetap berada di Jakarta. Sampai akhirnya diculik dan disekap, kemudian dibawa ke Semarang sejak 1947 – 1949. Pada pembebasannya tahun 1950, Suwiryo kembali menjabat sebagai walikota. Pada tahun 1967 beliau meninggal karena sakit.

Daan Jahja (1948 – 1950)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Daan Jahja (Tengah)

Beliaulah yang menggantikan tugas Suwiryo saat diculik oleh Belanda. Daan Jahja adalah seorang mantan Gubernur Militer Jakarta berpangkat Letnan Kolonel TNI. Lahir di Padang, 5 Januari 1925,  Jahja memiliki peran penting karena berhasil mengembalikan pemerintahan Jakarta ke Indonesia. Beliau meninggal pada tahun 1985 tepat di Hari Raya Idul Fitri 1405 Hijriah.

Sjamsuridjal (1951 – 1953)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Sjamsuridjal

Beliau adalah mantan walikota Solo dan Bandung sebelum akhirnya memerintah Jakarta. Sjamsuridjal terkenal dengan kebijakan permasalahan kesejahteraan rakyat, seperti listrik, air minum, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kebijakan tanah. Salah satu bukti nyata adalah membangun PLTA di kawasan Ancol untuk mengatasi permasalahan listrik. Beliau juga membangun penyaringan air di Karet dan masih banyak lagi.

Sudiro (1953 – 1960)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Sudiro

Sudiro adalah seorang guru. Beliau memiliki kebijakan yang masih dipakai hingga saat ini, yaitu pemecahan wilayah terkecil RT dan RW. Bahkan Sudiro juga memecah Jakarta menjadi tiga wilayah administrative yaitu Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan. Di bawah kepemimpinannya juga tercetus pembangunan Monas. Namun ide tersebut baru terlaksana pada kepemimpinan Soemarmo.

Baca juga : A COPY OF MIND, FILM YANG SENTIL PEMERINTAHAN

Soemarno (1960 – 1964 dan 1965 – 1966)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Soemarno

Pria kelahiran Jember tahun 1911 ini melakukan banyak pembangunan. Dialah gubernur pertama di Jakarta. Ini karena status Jakarta berubah pada saat itu dari Kotapraja menjadi Daerah Tingkat I. Beliaulah yang membangun Monas, Patung Selamat Datang di Bundaran HI, dan Patung Pahlawan di kawasan Menteng. Soemarno yang seorang dokter dan militer juga mencetuskan rumah minimum warga seluas 90 meter persegi di atas tanah 100 meter persegi.

Henk Ngantung (1964 – 1965)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Henk Ngantung

Hendrik Hermanus Joel Ngantung adalah pria kelahiran Manado tahun 1921. Sebelum menjadi gubernur ia bergelut di dunia seni. Ia bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani mendirikan “Gelanggang“. Bung Karno menunjuk Ngantung karena beliau ingin membangun Jakarta menjadi kota budaya. Patung Selamat Datang adalah hasil sketsa Henk dan ia juga membuat lambang DKI serta Kostrad. Henk akhirnya mundur dari jabatannya karena sakit jantung dan glukoma hingga buta.

Ali Sadikin (1966 – 1977)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Ali Sadikin

Di bawah kepemimpinan Bang Ali, Jakarta menjadi kota bertaraf internasional. Ia membangun Kebun Raya Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, TMII, Museum Fatahillah, dan Museum Tekstil, Keramik, dan Wayang. Bang Ali juga mengembalikan fungsi Gedung Joeang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda. Bang Ali juga membangun Taman Ismail Marzuki, Pelestarian Budaya Betawi di Condet, Penyelenggaraan Abang None Jakarta, dan masih banyak lagi.

Tjokropranolo (1977 – 1982)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Tjokropranolo (memegang buku)

Dulunya adalah asisten dari Ali Sadikin. Ia juga merupakan pengawal pribadi Panglima Besar Sudirman. Pria yang akrab disapa Nolly inilah yang membuat Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin bebas kendaraan setiap hari Sabtu dan Minggu pagi. Ia juga melanjutkan program Ali Sadikin untuk menekan angka urbanisasi di Jakarta. Ia juga sangat peduli terhadap nasib buruh dan usaha kecil. Sayangnya Nolly harus meninggal di usia 74 tahun pada 22 Juli 1998.

Baca juga : THE FIFTH ESTATE UNGKAP TIRANI TERSEMBUNYI PEMERINTAHAN MASA KINI

Raden Soeprapto (1982 – 1987)

Pilkada 2017: Sosok Pemimpin Jakarta Sejak 1945 | Breaktime
Raden Soeprapto (biru)

Latar belakang militer menjadi dasar pertimbangan ia menjadi pemimpin Jakarta. Dalam eranya, ia menerapkan sistem keterbukaan, redungsionalisasi, aparatur, ketegasan, dan penegakan disiplin aparatur dan masyarakat. Dialah sosok dibalik pembangunan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Itulah 9 sosok yang pernah menjadi orang nomor satu di Jakarta. Mereka juga memiliki peran penting dalam pembangunan Jakarta hingga menjadi seperti sekarang ini. Nah, saat ini menjadi tugas para calon gubernur baru untuk melanjutkan perjuangan mereka demi Jakarta yang lebih baik. (vpd)



artikel kompilasi
related img
icon maps
bali
guide
related img
icon maps
bali
guide
related img
icon maps
bali
guide