Paulo Coelho: Rumah Sakit Jiwa & Penulis Ternama | Breaktime
Paulo Coelho: Rumah Sakit Jiwa & Penulis Ternama
06.11.2017

B’timers mungkin mengenal nama Paulo Coelho lewat karya fenomenalnya The Alchemist. Hingga kini, namanya tersohor sebagai salah satu penulis kenamaan Brazil yang namanya telah harum hingga ke tingkat dunia. Namun apakah Anda mengetahui berbagai peristiwa bersejarah di tiap tikungan dan jalan berliku yang dilalui pria berusia 70 tahun tersebut sebelum menapaki puncak anak tangga dalam karirnya sebagai penulis kelas dunia?

Terlahir dari sepasang orangtua dengan latar belakang Katolik Jesuit dan ayah insinyur, hasrat Paulo Coelho untuk mendalami dunia kepenulisan mendapatkan penolakan keras dari kedua orangtuanya. Ambisi menjadi penulis yang telah muncul sejak usia muda tersebut membuat khawatir sang orangtua yang kemudian memasukkan Coelho ke dalam rumah sakit jiwa. Mereka bahkan sepakat bahwa sang anak perlu diberikan terapi kejut listrik sebagai respon putus asa mereka terhadap kepribadian tertutup Coelho sekaligus minatnya di dunia kepenulisan.

Menariknya, Coelho tak merasa dendam apalagi membenci kedua orangtuanya karena hal tersebut. Dirinya memahami bahwa upaya memasukkannya ke rumah sakit jiwa tersebut merupakan satu-satunya hal yang diketahui orangtuanya untuk memberikan masa depan yang terbaik bagi sang anak. Setelah 3 kali upaya melarikan diri dari institusi mental yang sama, Coelho keluar dan dinyatakan sembuh sejak usia 20 tahun kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Hukum demi memuaskan keinginan orangtuanya. Sayangnya, Coelho memutuskan drop out setahun kemudian dan hidup menggelandang sebagai hippie sambil berpetualang ke Amerika Selatan, Afrika Utara, Meksiko, hingga Eropa.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Be Smarter dengan Beragam Hobi Kaya Manfaat

Kehidupan ala hippie tersebut rupanya menginspirasi beberapa novel yang ditulisnya kelak, meski Coelho kemudian berhenti hidup menggelandang dan memulai karir mapan sebagai seorang penulis lirik lagu. Selain menjalani karir sebagai aktor, jurnalis, dan sutradara teater, Paulo Coelho bahkan sempat menggunakan obat terlarang hingga terlibat dalam aktivisme kiri hingga sempat ditahan karena lirik lagu yang ditulisnya terkesan subversif. Titik balik hidupnya dan akhir karir mapannya sebagai penulis lirik lagu ialah pada tahun 1986 ketika Coelho memutuskan melakukan perjalanan spiritual sejauh 500 mil lebih di sepanjang jalur Santiago de Compostela di barat laut Spanyol, yang kemudian dituangkan secara autobiografis dalam The Pilgrimage. 

Paulo Coelho: Rumah Sakit Jiwa & Penulis Ternama | Breaktime
Paulo Coelho bersama buku best seller karyanya, The Alchemist

Buku pertamanya Hell Archives yang diterbitkan pada tahun 1982 sayangnya gagal mendapatkan perhatian publik, demikian juga dengan kontribusinya dalam buku Practical Manual of Vampirism yang kemudian disesalinya karena dianggap Coelho tidak berkualitas. Setelah melakukan perjalanan spiritual yang menginspirasi The Pilgrimage, karya tersebut kemudian diterbitkan setahun kemudian yakni tepatnya pada tahun 1987. Ambisinya menjadi penulis ternama nan produktif dibayarkan Coelho dengan menuliskan dan menerbitkan novel The Alchemist melalui penerbit kecil. Sembari menyiapkan penerbitan buku selanjutnya yang bertajuk Brida, The Alchemist mulai melejit dan mendapatkan penawaran cetak ulang dari penerbit kelas dunia HarperCollins.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Highlight Gelaran Festival Film Bandung 2017

Sejak saat itulah, nama Paulo Coelho mulai terkenal dan karya-karyanya yang diawali oleh The Alchemist mulai mendapatkan perhatian istimewa dari kalangan sastra dan pembaca dunia. Terjual lebih dari 83 juta kopi, The Alchemist bahkan didapuk sebagai buku yang paling laris terjual sepanjang sejarah peradaban manusia. The Alchemist kemudian juga memecahkan rekor dunia Guinness sebagai buku karya penulis yang hingga kini masih hidup yang telah diterjemahkan ke paling banyak bahasa di seluruh dunia.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ingin Gaji Tinggi? Berani Coba Pekerjaan Ini?

Seakan tak pernah puas dengan pencapaiannya, Coelho sejak saat itu selalu menerbitkan buku baru setiap 2 tahun sekali. Uniknya, untuk menangani rasa malasnya dalam mempertahankan produktivitas menulis, Coelho bahkan bersumpah akan segera menulis buku baru begitu melihat sehelai bulu putih terjatuh di jendela suatu toko. Tentu saja ucapan asalnya tersebut segera diwujudkan begitu Coelho mendapati sehelai bulu putih seperti dalam sumpahnya tersebut.

Penulis yang kini secara rutin berpindah antara Eropa dan Brazil bersama istrinya, Christina Oiticica tersebut bahkan telah “berdamai” dengan agama Katolik yang telah ditinggalkannya sejak usia 20-an. Meski demikian, mayoritas novelnya terinspirasi dari kisah-kisah biblical, selain metaphor eutobiografis dari kisah hidupnya sendiri. Telah menerbitkan sekitar 25 buku hingga ratusan kolom surat kabar dan kumpulan esai, Paulo Coelho pernah mendapatkan penghargaan kehormatan dari Presiden Bulgaria di tahun 2006 hingga Penghargaan Kristal di Forum Ekonomi Dunia pada tahun 1999.

Dedikasinya dalam mewujudkan dunia yang lebih baik dilakukan dengan mendirikan Institut Paulo Coelho pada tahun 1996 yang bertujuan mendukung daya hidup anak-anak dan orang lanjut usia yang kurang mampu. Semoga seperti kisah hidup Paulo Coelho yang sarat perjuangan, B’timers senantiasa terinspirasi mewujudkan ambisi dan cita-cita hidup Anda ya! (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE