Kontroversi Presiden Melayu Pertama Singapura | Breaktime
Kontroversi Presiden Melayu Pertama Singapura
18.09.2017

Setiap negara di dunia memang memiliki pola percaturan politik mereka masing-masing. Sistem demokrasi terpimpin yang dikepalai oleh Presiden sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan yang berlaku di Indonesia tentu jauh berbeda dengan negara lain yang memiliki sistem berbeda. Sebut saja negara kerajaan seperti Inggris Raya atau negara dengan sistem parlemen seperti Amerika Serikat. Belum lagi aturan khusus dalam pemilihan kandidat Presiden, seperti Lebanon yang mewajibkan pembagian kekuasaan antara setiap kelompok agama yang diakui negara, hingga Singapura yang mewajibkan setiap ras memimpin negara secara bergantian.

Setelah dihebohkan dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat tahun 2016 silam, kini warga dunia kembali dihebohkan dengan sosok presiden teranyar Singapura. Tak hanya berjenis kelamin perempuan dari suku Melayu dan sejarah masa kecilnya yang pernah berjualan nasi padang, sosok kontroversial bernama Halimah Yacoob tersebut juga menghebohkan dengan penggunaan tanda pagar #NotMyPresident yang disuarakan warga Singapura di dunia maya. Tahukah B’tiemrs, siapa sosok Halimah Yacoob sebenarnya?

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ini Sebabnya Betty La Fea Kembali Diperbincangkan!

Setelah melalui proses pemilihan sengit,Komite Pemilihan Presiden Singapura menyatakan Halimah Yacoob sebagai calon tunggal yang sah dalam pemilihan Presiden SIngapura tahun 2017 setelah menggugurkan 2 kandidat lainnya, Salleh Marican dan Farid Khan. Kedua calon tersebut dikatakan tak memiliki syarat kekayaan minimal yang disyaratkan dari kandidat Presiden yang berasal dari sektor swasta, yakni 500 juta dolar Singapura. Anehnya, Halimah Yacoob lolos menjadi kandidat tunggal yang otomatis dilantik menjadi Presiden bukan karena jumlah kekayaannya, melainkan darah Melayu yang dimilikinya. Lalu mengapa banyak penduduk Singapura yang merasa kecewa atas keputusan tersebut?

Kontroversi Presiden Melayu Pertama Singapura | Breaktime
Halimah binti Yacob saat menjabat Ketua Parlemen Singapura

Statusnya sebagai Presiden perempuan pertama di Singapura sekaligus berasal dari ras Melayu, setelah 47 tahun dipimpin secara bergantian oleh Presiden dari ras Cina, ternyata tak cukup mengesankan warga Singapura. Tanda pagar #NotMyPresident bermunculan luas di jagad Twitter setelah terpilihnya Halimah Yacoob, persis ketika Donald Trump baru saja terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Bedanya, Donald Trump terpilih secara demokratis mutlak menurut sistem Pemilu Amerika Serikat, hal yang tak terjadi dalam proses terpilihnya Halimah. Meski pernah menjabat sebagai Juru Bicara Parlemen dari Januari 2013 hingga Agustus 2017, wanita Muslim berusia 63 tahun tersebut tak hanya disebut kurang berpengalaman untuk menjabat posisi Presiden Singapura, namun juga dipilih tak berdasarkan elected oleh rakyat secara langsung melainkan selected oleh Komite.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Bukan Jerman, Ini Saksi Sejarah Nazi di Amerika

Di negara yang mayoritas berasal dari ras Cina tersebut, baru saja dilakukan amandemen undang-undang Pemilu yang menyatakan bahwa kandidat Presiden harus berasal dari ras yang belum penah menjabat dalam periode sebelumnya. Aturan yang baru saja diresmikan pada tahun 2016 tersebut sayangnya tak memihak kedua lawan politik Halimah Yacoob sehingga dirinya bebas melenggang menjadi calon tunggal. Meski secara resmi di atas kertas, proses terpilihnya Halimah dikatakan sah berdasarkan perundangan yang berlaku, mayoritas warga Singapura merasa tercurangi karena suara mereka tak tertuju untuk Halimah. Beberapa komunitas warga Melayu dan Muslim bahkan menyatakan kecewa karena meski secara kasat mata mewakili komunitas mereka, status presidensial Halimah sebenarnya tak memiliki legitimasi kuat karena tak dipilih rakyat secara langsung.

Uniknya, nama Halimah Yacoob sendiri kini cukup populer di Indonesia, khususnya karena latar belakang ras Melayu dan agama Islam yang disandangnya yang tentu saja bersambut dengan sentimen ras dan agama yang baru-baru ini mencuat di Nusantara. Tak hanya itu, latar belakangnya yang merintis pendidikan tinggi dan karir politik dari membantu ibunya berjualan nasi padang sejak kecil rupanya dirasa cukup mengharukan bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Di luar status rasialnya yang kontroversial, Halimah Yacoob sendiri pernah sukses menjadi Ketua Parlemen Singapura pada tahun 2013 dan Menteri Negara Pengembangan Komunitas pada periode sebelumnya.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Ada Pohon Berbuah Kambing & Fakta Aneh Lainnya!

Semoga di balik status rasial dan agama Halimah Yacoob, politisi yang pernah berkiprah di Serikat Buruh Nasional tersebut dapat menjadi pemimpin terbaik bagi negara Singapura selama masa jabatannya nanti. (dee)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE