Ingat Ponari? Ini Fakta Menarik Tentangnya Kini | Breaktime
Ingat Ponari? Ini Fakta Menarik Tentangnya Kini
27.09.2017

B’Timers, masih ingatkah Anda dengan Ponari? Ya, susah rasanya melupakan sosok bocah cilik yang fenomenal dan melejit namanya di tahun 2009 lalu. Ia dan pengobatan batu petir ‘saktinya’ memang sempat menyita perhatian kita semua, bahkan rumahnya selalu dibanjiri dengan ribuan pengunjung yang rela berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan penyembuhan dari sang dukun cilik. Selama beberapa tahun, kabar si dukun cilik pun sedikit demi sedikit mulai lenyap hingga tidak terdengar gaungnya. Tidakkah Anda penasaran, bagaimana kabar dia kini?

Sepertinya memang sudah jadi suratan takdir, bahwa apapun yang bersifat instant akan berakhir dengan cepat. Begitu juga dengan popularitas Ponari. Kini, bocah cilik yang dulunya baru duduk di bangku Sekolah Dasar sudah beranjak remaja. Kini ia telah berusia 18 tahun, dan melalui wawancara yang dilakukan oleh psikologi dan pakar mikro-ekspresi Poppy Amalia, kita bisa mengetahui beberapa fakta menarik dan terbaru tentang Ponari. Apakah praktek dukunnya masih se-terkenal dulu?

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Fantastis, Wujud & Harga Penthouse Johnny Depp!

Dan, well, sepertinya gaung kesaktian Ponari pun ada masa expired. Menurut pengakuan dari Ponari, jumlah orang yang datang ke rumahnya untuk meminta pengobatan semakin menyusut. Memang, masih ada beberapa orang yang datang untuk meminta penyembuhan. Tapi  jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari. Bahkan, ada kalanya dalam waktu seminggu tidak ada satupun yang datang. Apakah hal tersebut membuatnya sedih?

Nah, biasanya seseorang yang membuka praktek usaha akan sedih jika usahanya menjadi lesu, tapi ternyata Ponari justru merasa senang dan lega! Ia mengakui saat ia berada di puncak ketenaran ia merasa sedih dan tertekan. Alasannya, ia adalah tipe orang yang pendiam dan tentunya jumlah massa yang datang ke rumahnya membuat si Ponari cilik merasa overwhelmed.

Selain itu, waktu yang bisa ia habiskan untuk berkumpul dengan keluarga, terutama dengan ayahnya pun menjadi jauh lebih berkurang. Dan sekarang setelah kesibukannya yang makin berkurang, ia jadi punya kesempatan untuk lebih menata hidupnya sendiri. Bahkan kini ia juga sudah mulai memiliki impian untuk membuka usaha kebun buah-buahan lokal. Membanggakan, ya?

Seandainya B’Timers melihat jauh ke dalam kehidupan masa lalu Ponari, tahukah Anda kalau Ponari sebenarnya termasuk ke dalam korban children labor? Tidak banyak yang tahu fakta satu ini, tapi kehidupan sekolah Ponari sempat terhambat gara-gara ‘kesibukannya’. Pendidikan Sekolah Dasar-nya molor selama kurang lebih 3 tahun, Ponari juga jadi sering tidak masuk sekolah sehingga mengakibatkan ia tidak lulus Ujian Nasional di sekolahnya. Barulah setelah prakteknya menjadi lebih sepi, ia dapat mengambil kejar paket A dan lulus. 

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
6 Hadiah Ulang Tahun Selebriti Paling Mewah

Usia Ponari saat itu memang masih terlalu muda untuk mencari nafkah, dan tidak seharusnya ia menawarkan jasanya untuk meraup uang. Anak seumuran Ponari seharusnya masih menikmati asyiknya bermain dengan teman-teman sebayanya dan menempa ilmu di sekolah. Tak pelak, Kak Seto yang menjadi ketua Komisi Perlindungan Anak pun sempat datang sendiri ke kediaman Ponari dan meminta orangtua dan panitia penyelenggara praktek untuk menghentikan praktek tersebut dan membebaskan Ponari. Tapi sayangnya, hal tersebut tidak terlalu digubris sehingga walaupun sempat ditutup, praktek dukun cilik Ponari kembali dibuka untuk umum.

Kenyataan yang menyedihkan memang. Dan mirisnya masih banyak sekali Ponari-Ponari lain di luar sana yang belum terekspos oleh media. Faktor penyebab utama dari eksploitasi anak  adalah poverty alias kemiskinan. Biasanya, akibat jeratan kemiskinan orangtua, atau dalam kasus Ponari, kerabat keluarga akan mendorong anak mereka untuk menjadi buruh demi mengeruk penghasilan tambahan.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Wow, 5 Profesi Hits Ini Gajinya Nggak Kira-Kira!

Praktek seperti ini tidak boleh dibiarkan, B’Timers! Karena hal tersebut biasanya akan berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak dimana anak dipaksa harus berperan sebagai orang dewasa sebelum waktunya.

Masa depan bangsa kita sepenuhnya bergantung pada generasi muda, dan salah satu caranya adalah melindungi masa kecil mereka. Setuju, B’Timers? (dkp)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE