5 Konser Musik Yang Berakhir Dengan Malapetaka | Breaktime
5 Konser Musik Yang Berakhir Dengan Malapetaka
08.03.2017

B’Timers, ketika Anda mengunjungi konser musik pastinya Anda akan membayangkan para fangirls dan fanboys yang bersorak saat penyanyi idola mereka menyanyi di atas panggung. Suasana dari konser musik pastinya juga sangat meriah dan menyenangkan. Dan rasanya tidak mungkin akan ada hal-hal buruk yang bisa tejadi pada saat itu.

Well, siapa yang menyangka bahwa sejarah mencatat banyak sekali konser musik yang berakhir dengan tragedi, baik dalam bentuk kerusuhan hingga terbunuhnya ribuan jiwa orang akibat teroris yang meledakkan dirinya di tengah-tengah penonton. Dari puluhan konser tersebut berikut adalah 7 konser musik yang menjadi lembaran gelap dalam dunia permusikan. 

Baca juga : ADA-ADA SAJA, 5 INSIDEN DI KONSER GIRLBAND

Tragedi Tushino

Pada tanggal 23 Oktober 2002, kelompok yang menamakan dirinya sebagai Chechnya Army  yang memiliki hubungan dekat dengan organisasi teroris Al-Qaeda menyusupkan 50 orang anggotanya ke dalam sebuah acara konser musik Nord Ost di Istana Kebudayaan di Moskow. 50 orang teroris tersebut menyandera sebanyak 700 orang dan peristiwa itu berlangsung selama 57 jam.

Pemerintah Rusia bahkan menurunkan pasukan khusus ke tempat kejadian perkara dan menyemprotkan serangan gas bius ke dalam gedung teater. Sebagian besar anggota teroris tersebut berhasil dilumpuhkan, namun sebanyak 120 sandera kehilangan nyawanya. Hingga saat ini kota Chechnya masih tetap bergejolak, entah sampai kapan. Semoga saja segera terselesaikan dengan damai ya, B’Timers.

Tragedi Klub Malam Colectiv

Tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa konser dari band rock Romania Goodbye to Gravity yang dilaksanakan di klub malam Colectiv pada tanggal 30 Oktober 2015 akan berubah menjadi malapetaka hingga munculnya titik api di atas panggung yang kemudian menyebar ke penjuru klub malam dan mengakibatkan para pengunjung, termasuk anggota band menjadi panik dan berlomba-lomba untuk menyelamatkan diri. 

Baca juga : SUKA DENGARKAN MUSIK? INI PENGARUHNYA BAGI EMOSI!

Sebanyak 45 orang meninggal dunia, termasuk drummer dari Goodbye to Gravity yaitu Bogdan Lavinius, dan sebanyak 180 jiwa harus dirawat di rumah sakit. Pemerintah menunjukkan keprihatinan serta belasungkawanya atas kejadian tersebut dengan menetapkan 3 hari pasca kejadian tersebut sebagai Hari Berkabung.

And here’s the most disturbing facts, B’Timers. Penyebab dari tingginya jumlah korban jiwa dari konser tersebut adalah karena gedung dari klub malam tersebut hanya memiliki satu buah pintu keluar dan juga tidak adanya pintu keluar darurat. Duh, bayangkan betapa tersiksanya para korban.

Tragedi Konser Black Sabbath

Geezer Butler, bassist dari band Black Sabbath mengalami tragedi pelemparan botol bir pada konser rock di Milwaukee, mereka terpaksa membatalkan konsernya karena Butler terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena luka yang dideritanya. Ternyata keputusan mereka menyulut kemarahan para penggemar yang telah hadir, sehingga mengakibatkan kerusuhan. Untungnya, kerusuhan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, walaupun terdapat kerugian materil sebesar lebih dari $10,000.

5 Konser Musik Yang Berakhir Dengan Malapetaka | Breaktime
Para fans ini ngamuk karena konser dibatalkan

Tragedi Konser Guns N’ Roses

Di tanggal 8 Agustus 1992, terjadi kericuhan yang disebabkan oleh para fans Guns N’ Roses yang berang akibat konser yang telah mereka nanti-nantikan dibatalkan begitu saja oleh band ini.

Kronologis ceritanya bermula pada tragedi kecil yang menimpa personel band Metallica yaitu James Hetfield yang menderita luka bakar akibat secara tidak sengaja ia terkena api pyrotechnic di atas panggung. Akibatnya, band Metallica terpaksa mengakhiri konser mereka secara mendadak dan melarikan James ke rumah sakit.

Baca juga : 5 KONSER MUSIK KEREN 2016 DI INDONESIA UNTUK DITONTON

Nah, alih-alih mengambil alih dan mendinginkan suasana, vokalis dari Guns N’ Roses yaitu Axl Rose memutuskan untuk batal tampil dengan alasan bahwa ia sedang sakit tenggorokan yang mengakibatkan suaranya menjadi serak. Sontak, sebanyak 2,000 fans yang hadir pada saat itu pun kehilangan kesabarannya dan melampiaskan kekecewaan dan amarah mereka dengan merusak jendela toko-toko di jalanan dan membakar mobil-mobil. Untungnya, petugas kepolisian berhasil menyurutkan kerusuhan tersebut dengan menahan beberapa orang yang diduga sebagai provokator

Tragedi Band Lamb of God

Konser musik band rock metal pada umumnya dipenuhi oleh lagu-lagu dengan tempo cepat dan suara yang keras sehingga memicu adrenalin. It feels so good, tetapi tidak jarang berlebihannya tingkat adrenalin di dalam tubuh seseorang dapat menyebabkan tragedi yang mengorbankan nyawa seseorang.

Hal tersebut menimpa sang vokalis, Randy Blythe. Ia diduga mendorong salah satu fans-nya yang menaiki panggung bernama Daniel Nosek dengan kasar hingga ia terjun bebas dari panggung dan jatuh dengan kepalanya yang mendarat terlebih dahulu. Akibatnya, Daniel Nosek menderita gegar otak dan membuat ia terjatuh ke dalam koma, dan tak lama setelah Daniel pada akhirnya meninggal dunia.

Randy Blythe serta merta menjadi tersangka utama dan wajib menghadiri serangkaian sidang. Dalam pembelaan dirinya, Blythe menyatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebagai bentuk dari self-defense dan ia sama sekali tidak mengetahui bahwa kepala Daniel Nosek menghantam lantai. Walaupun demikian, Blythe pun tidak mangkir dan justru bersedia untuk menghadiri persidangan untuk menenangkan hati orangtua dari mendiang Daniel Nosek.

Wah, mengerikan sekali ya, B’Timers? (dkp)



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE