Menguak Kisah di Balik Lahirnya Perfilman Indonesia | Breaktime
Menguak Kisah di Balik Lahirnya Perfilman Indonesia
11.03.2015

Untuk B’timers yang hobi nonton film, pernahkah terlintas rasa penasaran mengenai kapan dan bagaimana perfilman Indonesia dimulai? Perfilman Indonesia pada era awal ditandai dengan berdirinya bioskop pertama di tanah air, tepatnya pada tanggal 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia. Bioskop itu bernama Gambar Idoep dan menayangkan sejumlah film bisu.

Film Indonesia yang pertama kali dibuat adalah film bisu pada tahun 1926 yang berjudul “Loetoeng Kasaroeng”, digarap oleh 2 orang sutradara asal Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp. Beranjak ke periode 1942-1949 saat penjajahan Jepang, film Indonesia mulai kehilangan gaungnya karena hanya dijadikan alat propaganda politik. Masa ini bisa dibilang menjadi era surutnya produksi film nasional. Pada tahun 1942, Nippon Eigha Sha, sebuah perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia hanya bisa memproduksi 3 film yakni “Pulo Inten”, “Bunga Semboja”, dan “1001 Malam”.

Setelah kemerdekaan tepatnya pada tanggal 30 Maret 1950, Usmar Ismail melakukan pengambilan gambar untuk film “Darah & Doa” atau Long March of Siliwangi. Akhirnya, tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional karena momen ini dinilai sebagai langkah awal diproduksinya film lokal yang berkualitas.

Menginjak tahun 1962 hingga 1965, gejolak politik yang terjadi di tanah air membuat jumlah bioskop menurun drastis. Pada tahun 1964 masih terdapat 700 bioskop di seluruh Indonesia, sementara setahun kemudian hanya 350 bioskop yang masih beroperasi.

Dunia layar lebar Nusantara baru terlihat lagi geliatnya saat Sudwikatmono, salah seorang pengusaha sukses di Indonesia, mendirikan Sinepleks Jakarta Theater dan Studio 21 pada tahun 1987. Sayangnya, selama hampir 10 tahun kemudian lebih banyak bermunculan film ‘panas’ di bioskop-bioskop tanah air.

Perfilman nasional akhirnya bangkit di era 1998 dengan dirilisnya film “Cinta dalam Sepotong Roti” karya Garin Nugroho. Kemudian disusul dengan film karya Mira Lesmana yaitu “Petualangan Sherina” dan film garapan Rudi Soedjarwo “Ada Apa dengan Cinta?” yang sukses menggebrak pasaran.

Hingga kini, industri perfilman Indonesia terus berkembang dan semakin banyak film lokal yang menunjukkan tajinya di dunia internasional. Kalau B’timers sendiri, film asli Indonesia apa yang jadi favorit hingga saat ini?

 

Share This Article