“Ngenest”: Film Bullying yang Super Kocak | Breaktime
“Ngenest”: Film Bullying yang Super Kocak dan Menghibur
08.01.2016

Di akhir tahun 2015 bioskop tanah air dihujani film-film terbaru baik dari dunia Hollywood maupun film-film produksi sineas Indonesia. Para pecinta film kontan berbondong-bondong ke bioskop demi menyaksikan film-film keren untuk mengisi liburan.

Salah satu film yang secara mengejutkan laris manis disaksikan oleh banyak orang adalah film Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan. Film yang dirilis di bioskop pada 30 Desember 2015 ini disutradarai dan dibintangi sendiri oleh komika terkenal, Ernest Prakasa. Bahkan naskahnya pun ditulis sendiri oleh komika berdarah Indonesia-Tionghoa ini. Memang, film Ngenest ini diangkat dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Ernest.

Ernest muda yang diperankan oleh Kevin Anggara merasa bosan dengan bullying yang dilakukan teman-teman sekolah terhadapnya. Kerasnya kehidupan di era order baru membuat Ernest tertekan menjalani kehidupannya. Meski di-bully, Ernest berusaha menikmati kehidupannya dengan mencoba bergaul dengan teman-temannya. Tindakannya tersebut ditentang dengan keras oleh sahabat karibnya, Patrick (versi muda diperankan Brandon Salim, versi dewasa diperankan oleh Morgan Oey) yang sudah memprediksi hal-hal lebih buruk dari sebelumnya.

“Ngenest”: Film Bullying yang Super Kocak | Breaktime
Tim film saat acara pemutaran perdana

Benar saja, segala macam usaha telah ia lakukan agar terbebas dari bullying, namun rupanya tak ada satu pun yang membuahkan hasil. Puncaknya, ia menemukan satu cara bahwa untuk dapat membaur dan mendapatkan hidup jauh lebih baik, ia harus menikah dengan gadis pribumi. Meski sempat mendapat penolakan, akhirnya Ernest berhasil menyunting seorang gadis pribumi, Meira (Lala Karmela), untuk menjadi istrinya.

Tema bullying dan rasisme yang diangkat film Ngenest ini memang cukup sensitif. Banyak yang mengkhawatirkan tanggapan penonton terhadap film ini. Namun nyatanya, kepiawaian Ernest dalam mengemas film ini patut diacungi jempol. Tema film yang pada dasarnya bercerita seputar kekerasan dan intimidasi ini malah mampu membuat penonton tertawa lepas terbahak-bahak.

Sebagai sutradara anyaran, Ernest terbilang sangat cerdas dan mumpuni dalam menggarap sebuah film. Ernest berhasil membangun ritme cerita yang membawa emosi penonton dengan sangat baik. Sangat runtun dan pelan, namun “pecah” ketika sampai pada klimaks film. Penonton sukses dibuat terbahak lewat adegan lucu, menangis saat sedih dan tersipu saat suasana romantis. Film pertama garapan Ernest ini membuatnya dipertimbangkan di dunia perfilman Tanah Air. Selamat untuk Ernest Prakasa! (nap)

Share This Article