Kontroversi Asgardia, Negara Di Luar Angkasa l Breaktime
Kontroversi Asgardia, Negara Di Luar Angkasa
04.08.2017

Lupakan soal kehidupan di galaksi jauh ala Star Wars atau peradaban baru di planet Mars, sebentar lagi jutaan penduduk planet Bumi akan mampu menjadi warga negara angkasa yang memiliki nama resmi Space Kingdom of Asgardia. Terinspirasi dari kisah mitologi negara Asgard  yang dihuni para dewa Old Norse sebagai bagian dari 9 parallel universe, misi kehidupan antariksa pertama ini dicetuskan pada 12 Oktober 2016 oleh Igor Ashurbeyli, seorang ilmuwan sekaligus pebisnis berkebangsaan Rusia.

Pria berusia 53 tahun tersebut sudah tak asing lagi dengan dunia antariksa karena merupakan pendiri Aerospace International Research Center di Wina, Austria sekaligus direktur dari komite Science of Space di bawah naungan UNESCO. Sejak tahun 2011, beliau telah mengundurkan diri dari segala proyek antariksa milih pemerintah manapun untuk memastikan dirinya tetap netral dan tidak memiliki kepentingan politik, kemudian mulai mengembang konsep negara angkasa Asgardia. Tertarik melaksanakan proyek terobosan yang sama sekali baru, Igor telah sejak lama memimpikan Asgardia menjadi negara independen dengan konsep hukum dan tata negara yang sama sekali berbeda.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Wow, Sudah Ada “Food Porn” Sejak 500 Tahun Lalu

Kelak, Asgardia akan menjadi micronation pertama yang terletak di luar angkasa, tepatnya di orbit rendah bumi, sama dengan letak ISS (International Space Station). Igor mengklaim Asgardia sebagai prototype masyarakat yang bebas dan tidak terikat, serta menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan nilai luhur setiap umat manusia. Ram Jakhu, penasihat hukum Internasional Asgardia, menyatakan bahwa Asgardia akan menjadi sebuah space nation yang damai dan beretika, serta menunjang kehidupan trans-ethnic, trans-national, trans-religious.

Asgardia sementara ini masih tunduk di bawah Outer Space Treaty yang ditandatangani oleh 103 negara termasuk Amerika Serikat dan Rusia. Igor, sang pendiri Asgardia, berencana untuk mengajukan permohonan pengakuan Asgardia sebagai negara resmi kepada organisasi Persatuan Bangsa-bangsa (UN / United Nations) pada tahun 2018.

Sebelum itu, Asgardia yang direncanakan akan siap dihuni pada tahun 2030 telah membuka pendaftaran warga negara kepada seluruh penduduk Bumi. 3 minggu sejak pertama kali dibuka, sebanyak 500.000 jiwa telah mendaftar menjadi warga negara Asgardia, atau yang disebut juga dengan Asgardian. Saat ini, jumlah warga negara yang terdaftar menyusut menjadi 293.382 jiwa yang berasal dari 217 negara di dunia (menurut situs resmi Asgardia, https://asgardia.space/en/) akibat aturan pendaftaran yang diperketat. Meski demikian, syarat pendaftaran menjadi warga negara Asgardia sendiri cukup mudah, yakni berusia 18 hingga 35 tahun, memiliki alamat surel, serta terbuka bebas bagi siapa saja dari segala jenis kewarganegaraan, ras, agama, status finansial, bahkan ekspresi gender (sejauh ini terdapat 83% pria, 16% wanita, dan sisanya berasal dari ragam ekspresi gender lainnya), dan tentunya bersedia mengakui Igor, sang pendiri Asgardia, sebagai kepala negara resmi mereka.

Asgardia, negara baru di luar angkasa
Asgardia, negara baru di luar angkasa
Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Profil Instagram Sebaiknya Diprivate atau Tidak?

Sayangnya, hingga saat ini masih banyak pakar yang meragukan keabsahan serta kemungkinan diterimanya Asgardia sebagai negara resmi secara global. Selain memiliki populasi permanen, teritori yang jelas, pemerintahan resmi dan kemampuan untuk mengadakan kerjasama dengan negara lain, Asgardia baru dapat menjadi negara resmi apabila telah diakui oleh negara-negara lainnya di Bumi, demikian tutur Joanne Gabrynowicz, seorang pakar hukum antariksa sekaligus profesor di Fakultas Hukum, Institut Teknologi Beijing.

Ravyen Sin, seorang seniman berbasis Hong Kong yang telah mendaftar menjadi warga negara Asgardia, berharap bahwa dirinya dan warga Asgardia lain di masa depan mampu mewujudkan negara dengan penduduk yang berkesempatan untuk menyampaikan pendapat dengan bebas. Menurutnya, dunia saat ini hanya terbagi menjadi komunisme dan kapitalisme, serta menyimpan banyak potensi konflik yang mampu meletus sewaktu-waktu.

Baca Juga Artikel :
Berita Terbaru
Penemuan Penting yang Diciptakan ini Bikin Geli!

Setelah meluncurkan satelit pertamanya pada Agustus atau September 2017 nanti, Asgardia yang direncanakan mampu menampung hingga 150 juta manusia tersebut masih harus berjuang memenuhi kuota populasi sebuah negara sebelum mendaftar secara resmi ke PBB. Menariknya lagi, berdasarkan hukum tata negara sejauh ini, Profesor Sa’id Mosteshar, Direktur London Institute of Space Policy and Law menyatakan bahwa tidak boleh ada satupun negara di dunia yang berhak mengklaim wilayah di luar angkasa.

Meski didapuk sebagai negara antariksa yang sekaligus berfungsi melindungi planet Bumi dari serangan benda angkasa berbahaya, banyak yang mencurigai proyek Asgardia sebagai upaya untuk penyelamatan sebagian kecil penduduk bumi, tentunya dari kalangan tertentu, dari kehancuran planet Bumi yang dikhawatirkan akan terjadi dalam waktu dekat. Bagaimana, B’timers, tertarik mendaftarkan diri menjadi warga negara Asgardia? (dee) 



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE