Istirahatlah Kata-Kata: Film Rezim Orde Baru | Breaktime
Istirahatlah Kata-Kata: Film Rezim Orde Baru
15.01.2017

Film yang berlatarkan era Orde Baru sepertinya menarik untuk dibahas. Karena, di tahun inilah Indonesia mengalami banyak sekali peristiwa penting. Berbeda dengan sekarang ini, pada masa Orde Baru rakyat juga memiliki keterbatasan dalam hal menyampaikan suara atau pendapatnya. Hal tersebut tentu juga berlaku dalam perfilman. Pada masa tersebut film di anggap sebagai sarana atau media propaganda, karena itulah ada begitu banyak sekali film yang dilarang tayang dan ada juga beberapa film yang wajib untuk ditayangkan. Semua itu bertujuan hanya untuk kepentingan pemerintah semata.

Sekarang ini ada banyak sekalli film yang memiliki latar belakang atau bercerita mengenai masa Orde Baru. Dari sekian banyaknya film tersebut, salah satu film yang cukup menarik dan membuat para penontonnya mengenal masa lalu adalah film yang berjudul Istirahatlah Kata-kata. 

Istirahatlah Kata-Kata: Film Rezim Orde Baru | Breaktime
Salah satu kata-kata mutiara dari Wiji Thukul

Istirahatlah Kata-kata adalah sebuah film yang menceritakan sosok seorang aktivis pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Ya, orang tersebut adalah Wiji Thukul. Seorang aktivis asal Solo, Jawa Tengah, dimana ia dikenal sangat berani dan vocal pada masa rezim orde baru.

Wiji Thukul juga menjadi orang yang sangat berjasa karena ia sangat berperan penting dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Kisahnya sangat banyak sekali, namun yang paling menarik sang sutradara yakni Anggi Noen adalah pada saat masa menjelang runtuhnya rezim orde baru pada awal reformasi.

Ia pernah melarikan diri ke Pontianak pada 27 Juli 1996 dan akhirnya dinyatakan hilang pada tahun 1998 bersama 12 aktivis lainnya. Hingga saat ini sang Wiji Thukul dinyatakan hilang tanpa diketahui keberadaan dan penyebabnya. Sementara, sang istri yang bernama Sipon menunggu kepulangan Wiji dengan segala kecemasan dan cibiran tetangganya.

Film yang diperankan oleh Gunawan Maryanto atau yang lebih akrab disapa Cindil ini begitu sangat pas sekali. Karena, Gunawan sangat begitu mendalami karakter Wiji Thukul. Ia seolah dapat masuk ke karakter Wiji yang sebenarnya. Selain Gunawan, film ini juga diramaikan dengan beberapa pemain yang menghidupkan film ini antara lain Marisa Anita, Melanie Subono, Eduwart Manalu, Arswendy Nasution, dan Davi Yunan.

Film ini dikemas dengan durasi kurang lebih 90 menit yang akan menimbulkan berbagai macam argumen para penontonnya baik itu yang sudah mengenal sosok Wiji Thukul sebelumnya ataupun belum. Diawal film akan ada sedikit penjelasan teks mengenai kronologi yang terjadi pada waktu tahun 1998. Kemudian diceritakan Wiji dengan karya puisinya sebagai pengenalan kepada penonton bahwa Wiji adalah seorang penyair. Lalu diceritakan mengenai Wiji yang bersembunyi ke Pontianak. Berawal tinggal di sebuah rumah petak kecil dengan sebuah pintu darurat untuk melarikan diri, sampai ia yang berusaha untuk mengganti identitasnya baik KTP maupun penampilan fisiknya.

Konfilik yang ada dalam film ini sangat dramatis, dimana istrinya yaitu Sipon yang berada di Solo mengeluh karena hampir setiap hari rumahnya didatangi seseorang yang mencari Wiji. Baik itu polisi, Intel, maupun sosok menyeramkan lainnya.konflik batin yang dialami oleh Sipon ini sangat bertolak belakang dengan rasa ketakutan yang dialami oleh Wiji selam ia melarikan diri di Pontianak. Setiap konflik yang ada dalam film ini selalu diberikan sentuhan dramatis dengan munculnya kata-kata mutiara dari puisi Wiji melalui Voice Over.

Film ini patutu untuk diberikan apresiasi yang lebih dan dapat dijadikan sebagai salah satu film sejarah Indonesia karena film ini sudah menceritakan sejarah yang berhubungan dengan perkembangan bangsa Indonesia.(dsa)



artikel kompilasi
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE
related img
icon maps
CELEBES
TRAVEL GUIDE