Film Ini Dianggap Tidak Layak Tayang di Bioskop Karena Menimbulkan Pro dan Kontra, Kenapa ya? | Breaktime
Film Ini Dianggap Tidak Layak Tayang di Bioskop Karena Menimbulkan Pro dan Kontra, Kenapa ya?
08.02.2018

“ Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini.

Tapi di jalan setapaknya masing-masing.

Semua jalan setapak itu berbeda-beda.

Namun menuju ke arah yang sama.

Mencari suatu hal yang sama.

Dengan tujuan yang sama.

Yaitu : TUHAN”

Kalimat tersebut meluncur dari seorang Rika, yang diperankan oleh Endhita dalam sebuah film karya Sutradara Hanung Bramantyo. Endhita sengaja membacakan kepada sahabatnya, Surya (Agus Kuncoro). Kalimat tersebut dikutip Endhita dari sebuah buku yang dipegangnya. Tampaknya inti dari film yang berdurasi kurang dari 2 jam tersebut sarat makna akan arti pentingnya sebuah toleransi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Film ini bisa dikatakan bagai sebuah refleksi toleransi kehidupan.

Film yang merupakan karya ke-14 dari Hanung ini telah beredar sejak 7 April 2011 lalu. Seakan mengundang tanda tanya sebagian dari kita seperti ‘Tanda Tanya’ yang di jadikan judul film ini. Film ini mengisahkan tentang konflik keluarga dan pertemanan yang terjadi di sebuah area dekat Pasar Baru, dimana terdapat Masjid, Gereja dan Klenteng yang letaknya tidak berjauhan, dan para penganutnya memiliki hubungan satu sama lain. Dikisahkan bahwa terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan dengan Surya, pemuda yang belum pernah menikah.

Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku. Penggarapan film ini sangat serius dengan melibatkan pemain-pemain papan atas perfilman Indonesia seperti Reza Rahadian sebagai Soleh, Agus Kuncoro sebagai Surya dan artis lainnya. Terus terang, cerita film ini sebenarnya tidak terlalu berat. Tidak perlu mengernyitkan dahi dalam mengikuti alurnya. Tetapi bisa diprediksi bahwa banyak menuai pro dan kontra kiranya tak bisa terhindari. Singkatnya bisa dikatakan cukup apik dalam visualisasinya. Musikalisasinya juga cukup indah bila dinikmati dengan jalan ceritanya. Sebuah lagu ‘Kesaksian’ dari Kantata Takwa sangat pas ketika dijadikan pengiring adegan drama penyaliban yesus yang diperankan oleh Surya, yang notabene seorang muslim di perayaan Paskah. Pluralisme dan toleransi beragama memang sangat ditonjolkan dalam tema film 'Tanda Tanya' ini.

Jika ada pihak yang menilai bahwa di film ini terdapat pencampuradukan realita dari banyaknya fakta yang terjadi dalam keseharian, kita pun tidak bisa mendebatnya. Sebab penilaian tentang sebuah karya seni sangat didominasi oleh latar belakang dan kekuatan pemahaman nilai-nilai dari setiap orang, yang pastinya juga sulit diseragamkan. Bukankah perbedaan, baik yang terjadi dalam film 'Tanda Tanya' dan penilaian ini juga bisa katakan sebuah rahmat? Terlalu jauh rasanya jika sampai menilai dengan menyaksikan film 'Tanda Tanya' bisa merubah keimanan dan keyakinan seseorang. Sejatinya keimanan dan keyakinan yang hakiki itu adalah dengan menyikapi segala sesuatu secara arif dan bijak, termasuk menyikapi sebuah film. Kejernihan hati akan menjadi cermin bagi jiwa yang bisa ikhlas menerima perbedaan. Gimana, menurut kalian apakah film ini emang tidak layak untuk ditonton?



artikel kompilasi
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE
related img
LIVE
YOUR LIFE