Film Indonesia Tak Kalah dengan Hollywood, Ini Buktinya! | Breaktime
Film Indonesia Tak Kalah dengan Hollywood, Ini Buktinya!
31.08.2015

Dalam sebuah penelitian tentang pendapatan dalam industri perfilman, Motion Picture Association of America (MPAA) mengungkapkan bahwa film-film dari Asia akan menjadi pesaing kuat film-film garapan sutradara negara-negara Eropa maupun Hollywood.
Hal ini ada benarnya, sebab banyak juga film Indonesia yang tak kalah saing dengan film luar dan berhasil memukau dunia. Ini dia:

Lewat Djam Malam (1954)

Film berjudul Lewat Djam Malam ini merupakan film setelah era kemerdekaan yang sangat populer. Bahkan saking terkenalnya, National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation merestorasi film tersebut kemudian menayangkannya kembali di Cannes Film Festival 2012.

Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Film berjudul Tjoet Nja’ Dhien ini merupakan film pertama dari Indonesia yang berhasil diputar di gelaran Cannes Film Festival. Hebatnya lagi, karya anak bangsa ini berhasil menyabet gelar Best International Film.

Daun di Atas Bantal (1998)

Film garapan Garin Nugroho ini sangat fenomenal karena berhasil menyabet banyak penghargaan internasional, seperti Asia-Pacific Film Festival (Best Actress), Asia-Pacific Film Festival (Best Film), Singapore International Film Festival, Silver Screen Award Best Asian Feature Film dan Tokyo International Film Festival.

Pasir Berbisik (2001)

Film karya sutradara Nan Achnas ini selain memukau dunia internasional dan berhasil mendapatkan banyak penghargaan, seperti Best Cinematography Award, Best Sound Award, dan Jury’s Special Award for Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacifik 2001, Best Actress dalam Festival Film Asiatique Deauville 2002 dan Best Actress di Festival Film Antarbangsa Singapura ke -15.

Laskar Pelangi (2008)

Film yang diadopsi dari novel karya Andrea Hirata ini berhasil meraih penghargaan Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Film for Children dan Young Adults di Hamedan, Iran.

Lovely Man (2011)

Tidak hanya di Indonesia saja, Lovely Man ini juga mampu memukau perhatian para penikmat film di Jepang sekaligus masuk sebagai nominasi Osaka Asian Film Festival dan menyabet satu penghargaan dalam kategori Best Actor.

Modus Anomali (2012)

Walaupun tidak begitu ‘meledak’ di pasaran Indonesia, akan tetapi film yang diproduseri Sheila Timothy dan disutradari oleh Joko Anwar ini justru mendapatkan apresiasi positif dari publik luar negeri. Bahkan, Modus Anomali menyabet penghargaan bergengsi, yaitu Bucheon Award di Korea Selatan, serta terpilih dalam sebuah acara film di Amerika Serikat, yaitu Midnighters.

The Witness (2012)

Film dengan genre thriller ini mendapatkan nilai A dari Cinema Evaluation Board (CEB) Filipina. Bahkan, selain di Indonesia dan Filipina, The Witness juga diputar di sejumlah negara, seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand hingga Dubai.

The Raid: Redemption (2012) 

Film bertemakan action ini berhasil masuk dalam box office Amerika Serikat di urutan 11. Bahkan, film yang disutradarai Evan Garet ini juga berhasil menyabet penghargaan di Cadillacs People’s Choice Award, Toronto International Film Festival 2011 dan The Best Film sekaligus Audience Award- Jameson Dublin International Film Festival.

Maryam (2014)

Sebuah film pendek karya Sidi Saleh pada tahun 2014 lalu, berhasil menorehkan sejarah baru dalam dunia perfilman tanah air karena sukses menggondol gelar juara dalam ajang Venice International Film Festival yang merupakan ajang festival film tertua dan dihormati kalangan sineas dunia.

Bagaimana B’timers, masih beranggapan kalau film-film Indonesia tak sekeren film Hollywood? 

Share This Article