7 Film Indie yang Tembus Ketatnya Industri Film Internasional | Breaktime
7 Film Indie yang Tembus Ketatnya Industri Film Internasional
30.08.2015

Selain The Raid dan beberapa film lain yang pernah meraih kesuksesan sekaligus menyabet penghargaan di negeri orang, film Indonesia kategori indie juga ada yang berhasil menembus salah satu festival film tingkat dunia Cannes Film Festival di Prancis, lho!

Tidak hanya di Cannes saja, ada beberapa film pendek berlabel indie garapan sineas Indonesia yang juga berhasil menembus ketatnya persaingan industri perfilman internasional. Berikut ini adalah beberapa film indie yang sudah go international:

Lembusura

Lembusura merupakan sebuah film pendek yang dibuat oleh sineas Indonesia, Raphael Wregas Bhanuteja. Film yang menceritakan tentang letusan Gunung Kelud ini dikaitkan dengan mitos dan legenda tanah Jawa ini berhasil menembus jajaran film di Berlin International Film Festival ke-65 (Berlinade) dan Hongkong Internationl Film Festival.

Another Trip to the Moon

Dalam karya yang berdurasi 80 menit ini, Ismail Basbeth menampilkan film tanpa dialog. Ia membawa misi untuk lebih membebaskan imajinasi penontonnya dalam mengisi setiap alur dengan percakapan menurut mereka masing-masing.

Hal ini dikarenakan ia menganggap bahwa selama ini film yang ditayangkan ‘memaksa’ penonton untuk mengikuti alur cerita. Film Another Trip to the Moon ini ditayangkan pertama kali di ajang bergengsi Hivos Tiges Awards di International Film Festival Rotterdam 2015.

Tabula Rasa

Film yang dirilis pada tahun 2014 lalu ini, ternyata juga berhasil masuk dan diputar dalam ajang Cannes Film Festival dan bersaing dalam kategori Cannes Market Screening. Ketika diputar, antusias penonton pada film satu ini sangat luar biasa.

Tabula Rasa bercerita tentang seorang pemuda asal Papua yang bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional namun gagal dan menemukan bakat lainnya di bidang memasak.

Filosofi Kopi

Film yang diangkat dari novel karangan Dewi Lestari ini juga berhasil masuk dan diputar dalam Cannes Film Festival, bersaing dengan Tabula Rasa dalam kategori Cannes Market Screening. Di ajang ini, Filosofi Kopi dijadikan film pembuka acara dan banyak penonton yang memberikan applause. Filosofi Kopi bercerita tentang upaya pemilik kedai kopi dalam menyelamatkan tempat usaha mereka dari lilitan hutang.

The Fox Exploits The Tiger’s Might

Selain Tabula Rasa dan Filosofi Kopi, dari senias Indonesia juga ada satu film lagi yang berhasil tembus dalam ajang Cannes Film Festival, berjudul The Fox Exploits The Tiger’s Might. Film satu ini mendapatkan nominasi dalam kategori Critic’s Week. The Fox Exploits The Tiger’s Might bercerita tentang segala karut marut etnis minoritas di era Orde Baru.

Baca juga: HORORNYA 5 FILM VAMPIR PALING SERAM YANG PERNAH ADA 

Barefoot (Nyeker)

Sang sutradara mengambil setting waktu dan tempat di Jawa pada tahun 1832
Sang sutradara mengambil setting waktu dan tempat di Jawa pada tahun 1832

Sebuah film pendek berjudul Nyeker alias Barefoot juga berhasil masuk dalam sub kategori Short Film Corner di ajang Cannes Film Festival. Dalam film satu ini, sang sutradara mengangkat tema kultur dan budaya Nusantara di era penjajahan sekaligus membubuhinya dengan seragam konflik yang terjadi di dalamnya.

Dedes

Ceritanya mirip dengan alur kisah Ken Dedes di zaman dahulu
Ceritanya mirip dengan alur kisah Ken Dedes di zaman dahulu

Film yang disutradari oleh Esbi Hapsoro dengan durasi hanya 6 menit ini mengangkat kisah-kisah masa lalu yang terjadi di Indonesia dengan menggabungkan beberapa tokoh panutan masyarakat.

Tidak hanya itu saja, sang sutradara juga mengangkat isu gender yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Arok Dedes. Film satu ini masuk dalam Short Film Corner di Cannes Film Festival 2015.

So, jangan pernah meremehkan kualitas dan kekuatan sineas muda Tanah Air karena mereka sudah berhasil membuktikannya di tingkat internasional.

Share This Article