5 Film Indonesia Ini Mahal Tapi Tak Balik Modal | Breaktime
5 Film Indonesia Ini Mahal Tapi Tak Balik Modal
27.07.2016

Mau Hollywood, Bollywood maupun Indonesia, untuk membuat film harus selalu totalitas dan tak boleh setengah-setengah. Setuju tidak? Nah, bagus tidaknya sebuah film tak bisa dipungkiri memang tergantung dari pengangkatan cerita, pemilihan aktor dan yang tak kalah penting nih, budget.

Namun, bagaimana jadinya jika sebuah produksi film sudah susah payah membuat cerita yang bagus, membawa pemain film terbaik dan mengeluarkan dana yang bejibun tapi justru tak laku? Yeah, itulah kenyataan. Kenyataan pahit lebih tepatnya. Dan, inilah 5 film Indonesia berdana mahal namun tak laku bahkan tak balik modal.

Trilogi Merdeka

Trilogi Merdeka yang diawali dari film Merah Putih, Darah Garuda kemudian Hati Merdeka mungkin adalah film paling ambisius yang pernah dimiliki Indonesia. Dengan dana sebesar Rp 65 miliar bahkan mendatangkan spesial efek dari Hollywood plus aktor terbaik Tanah Air, sayang banget kan kalau ternyata ketiga filmnya tidak ada yang tembus satu juta penonton?

Gunung Emas Almayer

Masih dari tim produksi yang sama dengan Trilogi Merdeka, film ini pun tak menuai kesuksesan seperti pendahulunya. Dengan dana yang tak jauh dari trilogi Merdeka, film kolaborasi 3 negara (Australia, Indonesia, Malaysia) ini malah tak masuk 10 besar film terlaris di 2014 lalu.

Pendekar Tongkat Emas

Dana Rp 25 miliar, dibintangi aktor dan aktris terbaik dan isi cerita menarik tak membuat Pendekar Tongkat Emas sukses di Tanah Air. Namun hebatnya, film yang diperani Nicholas Saputra sukses besar di Luar Negeri dan menerima sejumlah penghargaan di festival film internasional.

Di Bawah Lindungan Ka’bah

Film yang dibintangi Herjunot Ali dan Laudya Chintya Bella ini juga mengalami nasib kurang baik yang sama. Sayangnya, budget Rp 25 miliar tak sebanding dengan hasil yang diraih. Ada sumber yang mengatakan bahwa pendapatannya hanya sekitar Rp 8 miliar. Wah, rugi banyak, ya!

Street Society

Keinginan insan perfilman Indonesia untuk layak disandingkan dengan film produksi Hollywood tertuang lewat film Street Society. Film balap-balapan ini bisa dibilang cukup seru dan punya twist yang memorable. Tak tanggung-tanggung, pihak produksi mengeluarkan total dan hingga Rp 18 miliar yang kebanyakan dipakai untuk “belanja” mobil. Sayangnya, hasil penjualan buruk dan membuat mereka tak balik modal. Sayang sekali.

Karena itu, sebagai WNI yang baik, yuk bikin film Indonesia berjaya di negeri sendiri dengan tidak memandang sebelah mata dan ramai-ramai nonton di bioskop. Okay? (nap)

Share This Article