Ungkap Karya Sastra Fenomenal: “The Old Man and The Sea” | Breaktime
Ungkap Karya Sastra Fenomenal: “The Old Man and The Sea”
13.03.2015

“I may not as strong as I think but I know many tricks and I have resolution.”

-Ernest Hemmingway-

Bila muncul pertanyaan tentang adakah karya sastra fenomenal yang berhasil menyabet nobel dengan narasi yang sederhana, tentunya B’timers akan terkenang dengan karya Ernest Hemmingway. Yap, “The Old Man and the Sea” is one of Hemmingway’s most enduring works and successfully confirmed as winning the 1954 Nobel Prize for Literature.

Lalu hal menarik apakah yang menjadikan novel ini memenangkan penghargaan Nobel? Well, it is the idea of redefining success and victory that makes Hemmingway’s classic novella, The Old Man and The Sea, is so profound. Melalui kisah seorang nelayan tua Kuba bernama Santiago, Anda akan banyak menemukan life lesson sederhana, tapi pada hakikatnya memiliki makna yang sangat mendalam pada berbagai hal fundamental dalam kehidupan.

It speaks to the universal truths of a man’s existence in this world where pride, respect, tenacity, and dreams fuel a man in the face of struggle. Sosok Santiago dalam novel setebal 99 halaman ini merupakan simbol perilaku dalam menyikapi kehidupan. Perjuangan Santiago untuk mendapatkan tangkapan seekor ikan marlin benar-benar membawa banyak sekali pelajaran untuk menjadi bahan renungan.

Salah satu renungan mendalamnya adalah ketika Hemmingway menuliskan “A man is not made for defeat”. Melalui kalimat ini, Anda akan diajak untuk melihat sosok Santiago tua yang dihadapkan pada berbagai kondisi tak pernah menguntungkan sama sekali. Alih-alih menyerah setelah tak memperoleh satupun tangkapan di hari ke-84 ada di lautan, Santiago justru terpacu untuk berlayar ke Teluk Meksiko, sebuah lokasi terjauh yang selama ini belum pernah didatanginya.

Ia adalah sosok lelaki tua yang juga tak terlalu banyak berharap pada keberuntungan ketika melihat teman-temannya selalu pulang dengan membawa tangkapan yang bagus. Dengan sangat apik, Hemmingway menuliskan, “It is better to be lucky. But I would rather to be exact. Then when the luck comes you are ready.

Pada akhirnya, di hari ke-85 Santiago berhasil menangkap seekor ikan Marlin, but another unpredicted things happen and ready to turn him down! Sekelompok ikan hiu justru mengincar hasil tangkapannya dan menjadikannya harus rela menjadi sebagai sosok nelayan “gagal” yang pulang ke darat tanpa membawa satupun hasil tangkapan.

Tak hanya itu, dalam pergulatannya melawan kawanan hiu, Hemmingway dengan sangat apik justru mengajarkan that a man goes down swinging, no matter his age! B’timers juga akan merasa bulu kuduk merinding ketika membayangkan monolog lantang Santiago ketika menikam seekor hiu dengan sebilah pisau, “I am too old to club sharks to death. But I will try as long as I have the oars and the short club and the tiller.

Really, there is no way to sense the greatness of The Old Man and The Sea unless you read this lovely work of Hemmingway, a sophisticated writer whose creative genius is unparalleled.

Share This Article