The Seventh Day: A Novel Takes on Modern China | Breaktime
The Seventh Day: A Novel Takes Modern China
08.02.2015

Siapa yang tidak mengenal Yu Hua, seorang penulis terkenal Tiongkok yang berhasil melejit lewat sejumlah karya epiknya. Bila sebelumnya koleksi cerita pendek Yu Hua berjudul “Boy in The Twilight” (2014) bercerita tentang sosok pria yang tak mampu mengingat namanya, maka kali ini Yu Hua menyuguhkan novel baru yang tak kalah menarik.

Yap, di tahun 2015 ini, Yu Hua kembali menyuguhkan novel terbarunya berjudul “The Seventh Day” yang mulai beredar pada tanggal 13 Januari kemarin di Amerika Serikat. Novel yang merupakan karya terjemahan dari Allah H. Barr ini memotret tentang kehidupan modern Tiongkok saat ini yang dibalut dengan konsep cerita berbeda dari genre novel kebanyakan.

The Seventh Day menceritakan kisah seorang pria paruh baya berusia 41 tahun bernama Yang Fei yang baru saja meninggal. Kisah kematiannya ini begitu menyedihkan karena ia tak memiliki satupun keluarga yang dapat memakamkannya dengan layak.

Yong Fei kecil lahir di dalam kereta, tanpa keberadaan seorang ibu di sampingnya. Sejak bayi ia telah diadopsi oleh seorang pekerja kereta api dan dibesarkan dalam rasa kasih dan cinta yang sederhana, sampai ayah angkat Yong Fei meninggal.

Selanjutnya, arwah Yong Fei diperintahkan untuk muncul dan menyaksikan pemakamannya sendiri. Ia menggunakan kemeja bagus yang dibalut pita hitam pada lengannya sebagai penanda bahwa ia adalah pria bujang yang hidup tanpa orang tua maupun anak.

Struktur cukup kompleks The Seventh Day benar-benar layak untuk mendapatkan perhatian para pembaca lantaran novel tipis dengan 224 halaman ini mampu dengan apik menampilkan berbagai elemen surealisme, fantasi, dan keabsurdan dalam sebuah karya penuh makna.

Cerita Yu selalu berhasil tampil elegan dan tajam dalam mengupas tentang sisi kehidupan, terlebih disajikan dari sudut pandang Yong Fei yang kini telah meninggal serta arwah-arwah lain yang ia temui masih bergentayangan karena ketidakmampuan untuk menyelenggarakan kremasi serta upacara pemakaman secara layak. The stories might sound unsubtle, but they represent an increasing important reality of modern China!

Share This Article