The Little Mermaids, Dongeng Legendaris yang Bikin Melting | Breaktime
The Little Mermaids, Dongeng Legendaris yang Bikin Melting
13.04.2015
“Mermaids have no tears, and so they suffer all the more.”
-Hans Christian Anderson-

Di antara sekian banyak buku yang sudah pernah B’timers baca, buku dongeng pasti menempati urutan tersendiri, bukan? Buku dongeng memang seakan memiliki aura magis yang membangkitkan imajinasi, menciptakan berbagai fantasi mengagumkan dan karenanya tetap hidup melekat di dalam hati, terbingkai rapi sebagai catatan nostalgia yang menyenangkan.

Nah, diantara para novelis fairy tales luar negeri, tentunya Anda tak asing dengan nama Hans Christian Andersen. Pria Denmark yang lahir tanggal 2 April 1805 ini memang sangat populer atas karya-karya emasnya dibidang dongeng. 

Tak hanya piawai membuat alur cerita yang menarik, pria yang juga mahir dalam membuat sejumlah naskah drama, novel, dan puisi ini memiliki susunan kata-kata sangat bagus sehingga sering dijadikan kutipan.

Salah satu karya legendaris Andersen yang paling spektakuler adalah sebuah dongeng bertajuk “The Little Mermaid.” Karya yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1837 ini sukses digubah ke dalam 125 bahasa dan telah menjadi sebuah cerita dengan budaya universal dan berterima hampir di semua negara.

Sejak peluncuran pertamanya yang lebih dari seabad, “The  Little Mermaid” yang bercerita tentang seorang putri duyung menyelamatkan pangeran ini digarap dengan konsep cerita fantasi anak-anak yang lebih seru. 

Salah satu versi bahasa Inggris The Little Mermaid yang diterjmahkan oleh Naomi Lewis
Salah satu versi bahasa Inggris The Little Mermaid yang diterjmahkan oleh Naomi Lewis

Yap, karya terbaru Andersen setebal 48 halaman yang rilis pada bulan Juni 2014 silam mendapatkan sentuhan dari penerjemah terkenal dunia, H.B Paull serta dua rangkaian ilustrasi klasik dari Vihelm Pedersen yang menggarap ilustrasi cerita dalam versi aslinya, Denmark, serta Helen Stratton, sang ilustrator untuk edisi dalam bahasa Inggris.

Kedua ilustrator ini sukses menampilkan a beautiful and dramatic visual compliment to this moving tale of love! Kesan dramatis ini juga makin bertambah ketika Andersen menuliskan, “It was the last night that she would breathe the same air as he, or look out over the deep sea and up into the star-blue heaven. A dreamless, eternal night awaited her, for she had no soul and had not been able to win one.”

Nah, bila Anda juga ingin menghadiahkan buku ini pada buah hati, edisi terbaru “The Little Mermaid” juga dilengkapi dengan pronunciation dan definisi tentang sejumlah kata yang mungkin kurang familiar bagi pembaca anak-anak. So both of you can see amazing thing together or even burst in tears after reading this heart-wrenching story.Be ready!

Share This Article