Menyibak Buku dan Karir Terakhir Lee Kuan Yew (1923-2015) | Breaktime
Menyibak Buku dan Karir Terakhir Lee Kuan Yew (1923-2015)
23.03.2015

“Even from my sickbed, even if you’re going to lower me to the grave and I feel that something is going wrong, I will get up.”

-Lee Kuan Yew-

Dunia politik internasional tengah diselimuti kabut duka pasca meninggalnya mantan Perdana Menteri (PM) Singapura, Lee Kuan Yew yang berpulang pada hari Senin, 23 Maret 2015. Lee akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah menderita penyakit pneumnonia dan dirawat di Singapore General Hospital sejak tangal 5 Februari 2015 lalu.

Berita kepergian Lee ini disampaikan oleh putra tertuanya, Lee Hsien Loong yang saat ini sedang menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura. Dalam sebuah statement yang diutarakan oleh kantor PM Singapura, Loong mengatakan bahwa ayahnua meninggal dunia pukul 03.18 waktu setempat.

Sebelumnya, Lee dikenal sebagai Bapak Singapura Modern sekaligus figur berpengaruh dalam sejarah politik Asia. Ia dikenal sebagai sosok yang berhasil mengantarkan Singapura dari negeri bekas jajahan Inggris menjadi negara yang kuat di sektor keuangan serta memiliki pendapatan per kapita paling tinggi di dunia.

Tak hanya mendapatkan pujian seputar keberhasilannya dalam mengangkat Singapura, faktanya kepimpinan Lee juga banyak sekali mendapatkan kritikan pedas dan tajam. Tanpa ragu, Lee melaksanakan beberapa peraturan keras guna menekan kaum oposisi dan kebebasan berpendapat. Maka tak heran bila Lee dianggap sebagai sosok otoriter yang menakutkan.

Pengalaman inilah yang coba dituliskan oleh Lee ke dalam dua karya yang sempat ditulisnya berjudul “The Singapore Story” dan “From Third World to First: The Singapore Story”. Di buku pertama, Lee banyak menuturkan pandangannya mengenai sejarah Singapura hingga negara tersebut keluar dari Federasi Malaysia di tahun 1965. Sementara itu, di buku keduanya berjudul “From Third World to First: The Singapore Story”, Lee banyak berkisah tentang pandangannya seputar perubahan Singapura sebagai negara maju.

Semasa hidupnya, Lee menuturkan bahwa dirinya memang lebih banyak ditakuti daripada disayangi oleh rakyatnya. Menurutnya, hal inilah yang menjadikan sumber daya manusia Singapura dapat maju dan berkembang pesat seperti sekarang.

Karir Lee sendiri selama menjadi Perdana Menteri juga tergolong fenomenal lantaran ia telah menjabat tujuh kali berturut-turut dari tahun 1963 hingga 1988. Hingga di bulan November tahun 1990, Lee kemudian mengundurkan diri tapi menduduki jabatan baru sebagai Menteri Senior pada kabinet Goh Chok Tong. Kepergian Lee di usia 91 tahun ini meninggalkan tiga orang anak, yakni Lee Hsien Loong (63), Lee Hsien Yang (57), dan Lee Wei Ling (60) tahun. 

Share This Article