“I Am China”, Kisah Percintaan di Balik Kerusuhan Tiananmen | Breaktime
“I Am China”, Kisah Percintaan di Balik Kerusuhan Tiananmen
17.02.2015

Is it possible if a writer would be able to do anything once he or she has left the place of his or her mother tongue? Yes, it is! Inilah yang terjadi pada penulis ternama asal China, Xiaolu Guo yang telah tinggal di Inggris sejak tahun 2002 dan terus berkiprah melahirkan novel-novel baru.

Susah untuk menyebut Guo kehilangan kreativitasnya dalam dunia penulisan lantaran dari sepuluh buku yang sudah ia keluarkan, lima di antaranya ia tulis ketika pergi meninggalkan China. Yap, novel terbaru Guo berjudul “ I Am China” yang terbit pada tanggal 5 Juni 2014 lalu ini merupakan sebuah karya yang melahirkan kedalaman makna bagi para pembacanya.

I Am China is a multilayered exploration of politics and culture across three continents. Novel ini diawali dengan kisah seorang pemuda China bernama Kublai Jian yang menuliskan surat cintanya pada sang kekasih yang telah lama tak pernah ia temui lagi pasca peristiwa Tiananmen Square di tahun 1989.

Kumpulan surat-surat cinta Kublai Jian pada kekasihnya, Mu, ini pada akhirnya menarik perhatian Jonathan Barker, a British publisher. Kemudian, Barker menyerahkan tumpukan surat cinta tersebut pada sang penerjemah, Lana Kirkpatrick.

Melalui terjemahan Lana inilah, terungkap kisah percintaan dan karakter misterius Jian dan Mu. Jian merupakan seorang pemuda China Utara yang sangat terobsesi dengan karya Vassily Grossman, dan memiliki pandangan politik yang dianggap menyimpang dan berbahaya.

Sementara itu, Mu merupakan gadis penyanyi China Selatan yang telah lama pergi ke Amerika Serikat untuk meniti karirnya sebagai seorang seniman pasca kerusuhan parah yang terjadi di China.

The closing line of Jian story yang menuliskan “ I am China, We are China. The People. Not the state” ini pada akhirnya seolah menjadi simbol yang menggambarkan perasaan penduduk Negeri Tirai Bambu mengenai peristiwa berdarah 25 tahun silam. 

Share This Article