Gadsby, Novel Tanpa Huruf E dalam 50.000 Kata | Breaktime
Gadsby, Novel Tanpa Huruf E dalam 50.000 Kata
05.06.2015

Pernahkah B’timers membaca kalimat yang bertuliskan the quick brown fox jumps over the lazy dog? Apa yang unik dari kalimat ini? Yap, dalam satu kalimat pendek tersebut, B’timers bisa menemukan 26 abjad latin dari A sampai Z, lho.
Keberadan huruf vokal dan konsonan dalam suatu kata memang mutlak sangat diperlukan untuk memberikan sentuhan makna yang berbeda. Namun, apa jadinya kalau ada karya sastra yang menghilangkan salah satu huruf vokal dalam semua barisan katanya?

Adalah novel karangan Ernest Vincent Wright dengan judul Gadsby yang berhasil melakukan hal unik ini. Novel yang sejatinya terbit pada tahun 1939 ini berhasil membuat para pembacanya terpukau dengan absennya huruf vokal “e” dari 50.000 kata yang ada di dalamnya.

Novel ekstentrik tanpa huruf “e”
Novel ekstentrik tanpa huruf “e”

Fakta ini memang sangat mengejutkan mengingat huruf “e” sangat kerap digunakan dalam bahasa Inggris. Ternyata, Wright mengadopsi lipogram, yakni gaya menulis suatu karangan dengan cara menghindari penggunaan huruf tertentu.

Namun, alih-alih membuat pembacanya kebingungan, dengan sangat cerdas Wright justru membuat karya sastra yang mengalir mulus dan enak dibaca. Novel ini pun hanya dibuat Wright dalam kurun waktu yang tergolong singkat yakni lima setengah bulan saja.

Novel setebal 260 halaman ini berkisah tentang seorang lelaki tua usia lima puluh tahun brnama John Gadsby yang tinggal di sebuah kota sekarat, Branton Hill. Alih-alih menjadi orang yang lesu, Gadsby justru tertarik untuk menghidupkan kotanya dengan membentuk Organization of Youth.

Gadsby dan pasukan mudanya akhirnya sukses merevitalisasi Branton Hills menjadi sebuah kota yang subur dan padat aktivitas. Di bagian akhir cerita, anggota organisasi Gadsby pada akhirnya menerima penghargaan atas kerja keras yang mengagumkan dan Gadsby sendiri menjadi walikota Branton Hills.

Well, ini merupakan sebuah karya eksentrik yang benar-benar tak boleh B’timers lewatkan begitu saja. Novel ini juga mengajarkan bahwa generasi muda merupakan powerful weapon to change the world. Don’t miss it!

Share This Article