Book Review: Alexandra Fuller’s Leaving Before the Rains Come | Breaktime
Book Review: Alexandra Fuller’s “Leaving Before the Rains Come”
30.01.2015

Di masa Rhodesian wars, lahirlah seorang anak dari pasangan suami-istri Afrika yang kemudian diberi nama Alexandra Fuller. Ya, lahir di zaman peperangan menjadikan Alexandra terbiasa mengalami berbagai kesulitan dan kesedihan dalam hidup.

Tak hanya mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan, kegagalan rumah tangganya bersama dengan pria Amerika dan fakta bahwa ia telah meninggalkan keluarganya di Afrika menjadikan hidup Alexandra seakan bertambah hancur berkeping-keping.

Semua kenangan inilah yang akhirnya mendorong Alexandra untuk mengeluarkan buku berjudul “Leaving Before the Rains Come”, a memoir of such grace and intelligence, filled with wit and courage. Sebuah buku yang telah banyak dinantikan para penggemar non-fiksi di tahun 2015.

Buku Alexandra Fuller ini akan mengantarkan B’timers pada kesulitan krisis ekonomi yang dihadapi Alexandra di tahun-tahun pertama ia tinggal di Amerika. Tak hanya menghadapi masalah krisis finansial, sejumlah perbedaan cara pandang antara perspektif Amerika dan Afrika juga akan menambah kisah epik pada karya yang akan segera diterbitkan tanggal 22 Januari 2015 ini.

Sejenak B’timers akan dibawa “bertamasya” pada kenangan konyol sekaligus mengerikan, serangan kawanan gajah ketika Alexandra melakukan kencan pertama dengan mantan suaminya serta kenangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia justru terkena penyakit malaria di hari pernikahannya.

Semua kisah masa lalu di masa mudanya ini kembali mengilhami Alexandra untuk tumbuh menjadi sosok yang tangguh ketika dihadapkan dengan kondisi pelik rumah tangganya saat ini. Leaving Before the Rains Come memotret puncak kemampuan Alexandra dalam menghadapi masalah dengan alur menarik.

Karya terbaru Alexandra Fuller ini merupakan her deepest revelations as a fully grown women and mother. Di akhir, B’timers akan diajak menemukan kesimpulan: after spending a lifetime fearfully waiting for someone to show up and save you, in the end, you all simply to save yourself. Sebuah karya non-fiksi bertabur renungan mendalam yang tak boleh B’timers lewatkan begitu saja!

Share This Article