Apakah Berbohong Itu Salah? What about White Lies? : “Lying” | Breaktime
Apakah Berbohong Itu Salah? What about White Lies? : “Lying”
10.03.2015

“Of course, the liar often imagines that he does no harm as along as his lies go undetected.”

-Sam Harris-

A neuroscientist and best-selling writer, Sam Harris menuturkan bahwa bohong dalam bentuk apapun adalah sebuah tindakan yang merugikan. Pernyataan inilah yang menjadi pembahasan utama dalam buku spektakulernya berjudul “Lying” yang pertama rilis di tahun 2011.

Buku ini sejatinya terinspirasi dari sebuah seminar yang diikutinya ketika ia menjadi mahasiswa S1 di Stanford. Seminar berjudul “The Ethical Anayst” yang dibawakan oleh seorang profesor mengagumkan, Ronald A. Howard, in the form of a Socratic dialogue. Seminar tersebut fokus dengan sebuah pertanyaan praktis: apakah berbohong itu salah?

Melalui buku fenomenal yang tebalnya tak lebih dari 34 halaman ini, Anda akan dibuat terkesima dengan berbagai temuan menarik yang diungkap Sam Harris tentang berbohong. Secara garis besar, pria kelahiran tahun 1967 ini menyatakan bahwa tidak semua penipuan merupakan bentuk kebohongan.

Sebagai contoh, ketika seorang wanita menggunakan kosmetik untuk memoles wajahnya agar ia tampak lebih cantik ataupun lebih muda, ia tak perlu berkata “Please be aware that I do not look this first good in the morning”. Hal ini dikarenakan bentuk “penipuan” ini bukanlah bagian dari tindakan menyembunyikan kebenaran yang banyak merugikan bagi orang lain.

Yap, the boundary between lying and deception is often vague, but Sam Harris really presents it in a really smooth and nice way to understand. Menurut Harris, berbohong merupakan aktivitas “menyesatkan” orang lain dengan sengaja when they expect honest communication. Lalu bagaimana dengan white lies?

Sebagian orang yang peka akan merasa bahwa kebohongan yang sering dilakukannya selama ini terjadi dianggap sebagai white lies, meaning it’s okay. Namun, melalui anggapan inilah Sam Harris akan mengajak Anda untuk melihat bahwa “white lies” tak terkendali justru hanya memperparah kerusakan dalam sebuah hubungan dan kehidupan masyarakat.

Share This Article