Cemilan Pedas Kontroversi: Makaroni Ngehe | Breaktime
Cemilan Pedas Penuh Kontroversi: Makaroni Ngehe
19.05.2015

Usaha Makaroni Ngehe

Inspirasi memanglah sebuah hal yang sangat berharga dalam mencari celah dan peluang berwirausaha ditengah padatnya persaingan antara individu satu dengan yang lainnya. Seorang pemuda bernama berusia 29 tahun bernama Ali Muharam, ternyata berhasil melambungkan sebuah bisnis yang terinspirasi dari masakan ibunya yaitu “Makaroni Ngehe”.

Bermodalkan uang pinjaman dari seorang teman, Ali memulai usaha Makaroni Ngehe yang sekarang ini sudah beromzet puluhan juta rupiah perharinya. “Ngehe” memang merupakan sebuah kata yang bisa dibilang tak lazim digunakan untuk sebuah label makanan. Namun, Ali dengan segala resiko yang ada berhasi membuat Makaroni Ngehe melejit hingga seperti saat ini.

(Baca juga: Aljazeerah Kuliner Khas Timur Tengah)

Inilah Makaroni Ngehe yang banyak dibicarakan
Inilah Makaroni Ngehe yang banyak dibicarakan

Ngehe (bahasa slang untuk menunjukkan kondisi yang semrawut, kacau, dll) merupakan representasi kehidupan yang Ali jalani sebagai mahasiswa rantau dari kota Tasik yang hidup di Ibu kota. Sempat tidur di emperan toko, menjadi penjaga warteg, dan bekerja sebagai pemotong sayur dengan bayaran Rp 5 ribu per 12 jam, kini Ali bisa membuka 8 cabang Makaroni Ngehe yang tentu saja menggulirkan pundi-pundi rupiah cukup banyak setiap bulannya.

Ada dua macam macaroni yang diproduksi Ali, yaitu kering dan basah. Ada tingkatan rasa pedas yang ia gunakan dalam jajanan buatannya, sehingga konsumen bisa memilih sendiri sesuai selera. Meski pedas, tapi macaroni buatan Ali ini membuat yang menyantap tak bisa berhenti untuk mengunyahnya. Wah, tertarik untuk mencoba, B’timers?

Share This Article