Amankah Mengonsumsi Olahan Daging Katak? | Breaktime
Amankah Mengonsumsi Olahan Daging Katak?
25.05.2015

Selain gemar menyantap ikan dan daging ayam, sejumlah orang ternyata juga doyan melahap daging katak. Apakah B’timers adalah salah satu penyuka olahan hewan amfibi ini? Kebanyakan orang menuturkan bahwa daging katak, terutama bagian kakinya memiliki cita rasa yang gurih dan rasanya pun mirip dengan perpaduan antara daging ikan dan ayam.

Daging swike panggang
Daging swike panggang

Namun, beberapa tahun terakhir ini, banyak dokter maupun ilmuwan yang mulai melarang masyarakat untuk mengonsumsi daging katak lho. Di bulan Maret 2015 kemarin, seorang wanita Tiongkok bernama Yin Meng terdeteksi memiliki cacing pita hidup yang bersarang di kepalanya.

Pihak rumah sakit menuturkan bahwa Yin Meng terserang infeksi parasit bernama Sparaganosis yang telah tumbuh di dalam kepalanya selama beberapa tahun hingga menyerang sistem saraf. Saat dilakukan pembedahan, tim dokter pun akhirnya berhasil mengeluarkan cacing pita sepanjang 10 cm dari kepala Yin Meng setelah sebelumnya ia sering merasa pusing yang tak kunjung hilang.

Kasus Yin Meng ini memang akan mengingatkan B’timers pada kasus infeksi cacing pita pada seorang pasien di Rumah Sakit Guangzhou lantaran gemar mengonsumsi sashimi mentah. Hanya saja, untuk kasus Yin Meng ini, infeksi Sparaganosis ini terjadi melalui makanan berupa daging katak.

Selain itu, sejumlah warga Australia juga melakukan percobaan kecil pada daging kaki katak yang sudah mati dan dikuliti. Ketika ditaburkan garam halus di atasnya, tak beberapa lama kemudian tiba-tiba saja kaki katak tersebut bergoyang-goyang dengan sendirinya.

Sifat garam yang berfungsi sebagai antiseptik membuat beberapa parasit seperti cacing pita yang bersembunyi di dalam kaki katak bereaksi sehingga membuat kaki katak tersebut bergoyang-goyang.

Selain itu, di tahun 2010, seorang ekologis dari University of Colorado, Pieter Johnson juga melakukan penelitian terhadap katak yang dikumpulkan dari kawasan Kalifornia, Oregon, Washington, dan Montana.

Hasilnya, parasit jenis Riberia banyak sekali ditemukan pada spesies katak yang ada di sana. Bahkan, prasit ini jumlahnya akan berlipat-lipat lebih banyak bila ditemukan pada katak yang mengalami kelainan anatomi tubuh.

Well, it’s really frightening, right? Nah, mulai sekarang tak ada salahnya bila B’timers mencari menu lain dengan kandungan protein yang tak kalah tinggi tapi tetap sehat untuk dikonsumsi, ya!

Share This Article